PRODUK KAMI

Minat : Luqmanul Khakim HP : 085711081674 / 089605509038 / PIN BB : 54C29D51

Diskon Menarik utk setiap Produk Kami - Klik di Sini!

Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Website Para Ustadz

Hasil gambar untuk muslim.or.id


Para pengunjung ldk-riskina.blogspot.com yang semoga selalu dirahmati oleh Allah, berikut kami sajikan beberapa website dan blog dari para ustadz  yang bisa dijadikan rujukan belajar Islam dan bertanya mendalam tentang Islam. Jika para pengunjung memiliki info tambahan website lainnya, silakan beri masukan lewat kolom komentar.
  1. Ustadz-Ustadz Universitas Islam Madinah (http://serambimadinah.com/)
  2. Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA (http://dzikra.com)
  3. Ustadz Abdullah Taslim, MA (http://manisnyaiman.com)
  4. Ustadz Firanda Andirja, MA. (http://firanda.com/)
  5. Ustadz Abdullah Zaen, MA (http://tunasilmu.com)
  6. Ustadz Abdullah Roy, MA. (http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/)
  7. Ustadz Aris Munandar, MA (http://ustadzaris.com/) [Guru favourit dalam belajar Islam]
  8. Ustadz Muhammad Wasitho, MA (http://www.abufawaz.wordpress.com/)
  9. Ustadz Abu Yahya Badrussalam, Lc. (http://cintasunnah.com)
  10. Ustadz Abu Hudzaifah, Lc. (http://basweidan.wordpress.com/)
  11. Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc [Dammam – KSA] (http://www.dakwahsunnah.com/)
  12. Ustadz Zainal Abidin, Lc. (http://www.zainalabidin.org/)
  13. Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. (http://www.ustadzkholid.com/)
  14. Ustadz Ahmad Faiz Asifuddin, Lc (http://ustadzfaiz.com)
  15. Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc. (http://addariny.wordpress.com/)
  16. Ustadz Abu Zubair, Lc. (http://abuzubair.net/)
  17. Ustadz Ahmad Sabiq, Lc (http://ahmadsabiq.com/)
  18. Ustadz Sa’id Yai Ardiyansyah, Lc. (http://kajiansaid.wordpress.com/)
  19. Ustadz Abu Ihsan Al Atsari (http://abuihsan.com/)
  20. Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami (http://kajianislam.net)
  21. Ustadz Fariq Gasim (http://fariqgasimanuz.wordpress.com)
  22. Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi (http://abiubaidah.com/)
  23. Ustadz Muslim Al Atsari (http://ustadzmuslim.com)
  24. Ustadz Marwan Abu Dihyah (http://abu0dihyah.wordpress.com)
  25. Ustadz Abu Ali, ST.,MEng.,Phd. (http://noorakhmad.blogspot.com/)
  26. Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi, SSi. (http://abumushlih.com/)
  27. Ustadz Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST (http://ikhwanmuslim.com)
  28. Ustadz Abul Jauzaa (http://abul-jauzaa.blogspot.com)
  29. Ustadz Abu Salma (http://abusalma.wordpress.com/)
  30. Ustadz Yulian Purnama (http://kangaswad.wordpress.com)
  31. Ustadz dr. Muhaimin Ashuri (http://attaubah.com)
  32. Ustadz Didik Suyadi (http://abukarimah.wordpress.com)
  33. Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa (http://sabilulilmi.wordpress.com) [Sahabat dekat kami dalam tholabul ‘ilmi di Riyadh]
  34. Ustadz Dzulqarnain (http://dzulqarnain.net) [Ustadz favorit kami di Indonesia dan ingin seperti beliau]
  35. Ustadz Abdul Malik, sopir pribadi Syaikh Sholih Al Fauzan (http://abdoelmalik.com)

Sumber: Muslim.Or.Id, serta hasil searchingan lainnya

Semoga Allah selalu memberkahi ilmu yang bermanfaat.
READ MORE - Website Para Ustadz

HANDPHONE TELAH MENGHALANGIKU DARI ALQURAN


Jujurlah dari hati kita, ketika kita akan melakukan aktvitas di pagi hari, hal apa yang diingat oleh kita pertama kali?
Sebelum tidur, disamping kita handphone atau Alquran?
Seusai sholat subuh, sebelum kita melakukan aktivitas di pagi hari untuk mendapatkan keberkahan didalamnya, apa yang kita ingat dan ambil?


Handphone kita? atau Mushaf Alquran?

Jujurlah kepada diri kita sendiri, sering kita dan bahkan mungkin selalu yang terbenak dalam hati kita adalah handphone kita, entah kita hanya mengecek pesan dari Whatsapp, atau melihat status di BBM dan mungkin cuma iseng melihat notifikasi dan pesan yang ada di facebook.
Sebentar dan mungkin tidak sampai sepuluh menit, pasti kita memegang handphone kita

Sungguh sangat berbeda sekali dengan apa yang dialami oleh Sahabat Kholid bin Walid Rodhiyallohu anhu. Kholid bin Walid Rodhiyallohu anhu lalai dalam memperbanyak amalan membaca Alquran dikarenakan ia selalu JIhad fi sabilillah melawan musuh. Padahal Jihad adalah amalan yang sangat agung. Sedangkan kita saat ini, kita dilalaikan oleh handphone dalam memperbanyak amalan membaca Alquran.

Subhanalloh, semoga kita terlindung dari fitnah handphone
READ MORE - HANDPHONE TELAH MENGHALANGIKU DARI ALQURAN

Dukungan untuk muslimah yang berhijrah


Aku memang tak sebaik yang kau katakan
Aku memang tak secantik yang kau pandang
Pakaian ku memang tak sebagus pakaian yang kau gunakan
Dan aku memang bukan muslimah yang begitu ahli dibidang dakwah.


Tapi, aku juga tak seburuk yang kau pikirkan
Aku hanya muslimah biasa yang sedang berhijrah.
Jangan kau hakimi hijrah ku ini.
Jangan kau hujat aku karena satu kesalahan
Karena aku muslimah yang tak jauh dari khilaf, dosa, dan kesalahan .

Kau tak pernah tau saat aku berjuang untuk memperbaiki diri ini.
Aku mengemis dalam doaku,
Agar hijrahku Ridho di hadapanNya.
Dan sebuah air mata dalam penyesalan.

Berhijrah tak semudah seperti kau membalikkan telapak tangan .
Tak semudah saat kau hakimi aku.
Karena hijrah adalah suatu proses perubahan kearah yang lebih baik.

Hargailah hijrahku......
Jangan kau hakimi hijrahku ini,
dengan segala perubahan yang sudah aku lakukan

Kau yang paham tentang hijrah ini,
dengan mudahnya kau hina aku yang kau nilai dengan sebelah matamu

Memang jalan menuju syurga tidaklah semudah jalan menuju neraka.
Karena itu, liku-liku hidup ini penuh dengan cobaan yang harus di hadapi dengan ketabahan hati.

Aku hanya manusia yang hina, dan penuh dosa.
Namun, pantaskah aku si pendosa dan hina ini,
mendambakan syurga yang sungguh indah yang tak pernah terduga?

Aku tak peduli,
Bagaimana pandangan mereka terhadap hijrahku ini,
Aku tak peduli,
Bagaimana penilaian mereka terhadap hijrahku ini.
Terserah apa kata mereka.

Semua aku serahkan kepada Allah.
Aku hanya berharap pandangan Allah terhadap diriku ini.
Dan aku juga tidak ingin pujian sana sini yang membuat diri ku menjadi bangga atas hijrah ini.

Ya Allah.....
Jauhkan aku dari sifat ujub,
Semoga tetap semangat dalam perbaikan diri.
Allahumma Aamiin.

Kolaborasi @duniajilbab bareng kontributor resmi: @arafhmina

‪#‎duniajilbab‬ ‪#‎beraniberhijrah‬

Via dakwah islam
READ MORE - Dukungan untuk muslimah yang berhijrah

22 Kiat Sukses Membaca Kitab (3)



Kiat kedua belas, catat faidah yang Anda dapatkan dari buku yang Anda baca.
Saat membaca, pena atau pensil jangan sampai absen dari genggaman tangan Anda. Bila Anda menemui faidah yang berharga, catatlah di sampul buku, atau halaman-halaman kosong di dalam buku lainnya. Bisa di halaman depan atau halaman belakang. Semua faidah yang termaktub dalam buku memang berharga. Namun, faidah itu bertingkat-tingkat. Maka pilihlah faidah yang menurut Anda paling penting atau berupa pengetahuan baru. Nanti, bila sewaktu-waktu Anda membutuhkan ma’lumat tersebut, Anda akan mudah mencarinya di coretan-coretan halaman depan atau halaman belakang yang Anda gunakan untuk mengumpulkan faidah.

Jangan lupa sertakan nomor halaman buku yang memuat faidah yang Anda dapat. Jadi ini semacam buat daftar isi sendiri. Metode ini amat membantu untuk menguatkan ingatan Anda terhadap faidah-faidah yang Ada dalam buku.

Ketiga belas, kumpulkan faidah yang Anda catat, lalu golongkan sesuai bab yang dibahas dalam sebuah catatan.
Bila sudah mencatat faidah di halaman sampul buku, akan lebih baik lagi bila Anda kumpulkan semua faidah dari buku-buku yang Anda baca. Kemudian Anda pisahkan menjadi bab-bab sesuai kategori ma’lumatnya. Misal akidah kumpulkan dalam catatan tentang akidah. Fikih tentang fikih. Tarikh (sejarah) tentang tarikh, dan seterusnya.

Bila sewaktu-waktu ada satu faidah yang hilang, atau lupa tidak tercatat, maka carilah faidah tersebut seperti seorang yang mencari binatang yang membawa perbekalannya, yang hilang di tengah padang pasir.

Dengan demikian -setelah taufik dari Allah- Anda akan merasakan bahwa bacaan Anda benar-benar menambah ilmu dan tersimpan kuat dalam ingatan Anda. Sehingga saat Anda hendak mengisi ceramah, seminar, atau khutbah, Anda akan mudah menemukan kembali ma’lumat atau faidah yang Anda butuhkan.

Keempat belas, pilihlah kitab andalan pada setiap disiplin ilmu.
Misal, dalam ilmu nahwu, pilih alfiyah ibnu malik beserta syarahnya milik Ibnu ‘Aqil. Dalam ilmu aqidah, kitab at-tauhid misalnya. Jangan lupa terapkan kiat ke 11 dan 12 di atas.

Kelima belas, sebelum memasuki musim atau moment tertentu, bacalah kitab yang berkaitan dengan musim atau moment tersebut.
Seperti saat musim hujan, bacalah buku yang membahas tentang fikih berkaitan dengan hujan. Saat musim haji, bacalah fikih haji. Saat musimpuasa, bacalah buku tentang fikih puasa. Saat musim hari raya qurban, bacalah buku tentang fikih qurban, dst.

Ini sangat bermanfaat bagi para penuntut ilmu. Sudah terbukti, apabila Anda membaca suatu kitab yang membahas tentang suatu ibadah sesuai dengan musimnya masing-masing, Anda akan merasakan betala lezatnya ibadah, yang dibangun di atas ilmu.

Keenam belas, metode muqoronah dan mufaroqoh.
Maksudnya begini, biasanya satu kitab ada beberapa versi syarah. Nah, mulailah dari syarah yang kiranya paling komprehensif dan paling inti. Lalu setelah berpindah pada syarah selanjutnya. Kemudian, di saat Anda mendapat faidah tambahan yang tidak disebutkan dalam kitab syarah pertama, maka catatlah faidah tersebut, lalu kumpulkan bersama catatan faidah kitan syarah pertama (seperti yang telah kami jelaskan pada kiat ke 12). Terapkan metode ini pada syarah-syarah lainnya yang akan Anda baca.

Sebagai permisalan, kitab “al Arba’in an Nawawi“. Kitab yang tidak asing lagi di telinga kaum muslimin ini memiliki banyak versi syarah. Mulai dari ulama mutaqddimin sampai ulama mutakhirin. Mulai dari Ibnu Rojab al Hambali, Ibnu Daqiq al ‘ied, kemudian untuk ulama akhir-akhir ini yang juga men-syarah kitab ini adalah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Syaikh Sholih Fauzan.

Nah, pilihlah kitab syarahnya Ibnu Rojab -rahimahumallah- sebagai pegangan asal. Lalu setalah membaca satu hadis dari syarahnya Ibnu Rojab, bacalah syarah-syarah selanjutnya pada hadis yang sama. Di sini Anda akan mendapati faidah-faidah berharga yang tidak di sebutkan pada syarah pertama, begitu pula pada kitab-kitab syarah selanjutnya. Sehingga Anda telah mengumpulkan dan menggabungkan faidah dari ulama yang berbeda.

Ketujuh belas, membaca kitab-kitab fatwa.
Pada poin ini, kami akan membeberkan kepada Anda sebuah metode yang amat terasa manfaatnya dan sudah terbukti. Telah kami prkatekkan dengan beberapa kawan kami, dan alhamdulillah, Allah memberikan manfaat pada metode ini.

Metode ini telah di singgung oleh Imam Bukhori dalam kitab shahihnya, dan dijadikan judul salah satu bab:

باب طرح الإمام المسألة على على أصحابه ليختبر ما عندهم من العلم

“Bab: Seorang Alim memberikan pertanyaan kepada saudaranya untuk menguji keilmuannya”

Di sini kami beri judul: seorang mengajukan pertanyaan kepada kawan-kawannya, untuk mudzakaroh (belajar kelompok) dan saling menguji keilmuannya.

Pilihlah salah satu kitab fatwa. Kami sarankan yang berkaitan dengan fikih ibadah yang sesuai dengan musimnya. Kemudian ajaklah beberapa kawan Anda yang kelihatan memiliki semangat dalam menuntut ilmu, untuk membaca kitab fatwa tersebut secara berkelompok.

Setelah terbentuk satu kelompok belajar, salah seorang dari kalian membacakan pertanyaan yang ada dalam kitab fatwa tersebut, dan biarkan jawaban dari Syaikhnya jangan dibaca terlebih dahulu.

Kemudian yang lainnya menjawab pertanyaan tersebut sesuai kadar pengetahuannya. Bila ada jawaban yang berbeda satu sama lainnya, diskusikanlah dan saling berdu argumen. Dan ini bukan termasuk berbicara tentang syari’at Allah tanpa ilmu. Akan tetapi min baabil mudaarosah(untuk tujuan belajar). Setelah masing usai menyampaikan jawaban beserta dalil dan saling berdiskusi, barulah si pembaca membacakan jawaban dari ulama yang menyusun kitab fatwa tersebut.

Metode seperti ini akan meimbulkan rasa penasaran terhadap jawaban Syaikh. Dan keinginan yang kuat untuk mengetahui letak kekeliruan dan kelemahan jawaban kita. Sehingga kesadaran untuk mengetahui ilmu itu hadir dan faidah ilmiyyah dari jawaban Syaikh benar-benar teringat di dalam memori kita.

Kedelapan belas, jangan berpindah-pindah buku sebelum selesai membaca.
Sering berpindah-pindah buku sebelum menyelesaikan bacaan, akan melelahkan otak dan faidah yang di dapat akan tercerai berai. Jadi, usahakan bila membaca suatu buku, azamkan dalam dirimu untuk menyelesaikan buku tersebut. Tidak mengapa Anda memiliki rutinitas membaca lebih dari satu buku dalam satu pekan. Akan tetapi, aturlah waktunya. Semakin sedikit buku yang dibaca dalam satu pekan semakin efisien waktu dan tenaga pikiran. Jadi, mulai dari sedikit dulu, baru setelah terbiasa bisa nambah lagi bukunya. Misal seminggu satu atau dua buku dulu.

Dengan seperti ini, Anda akan terpacu untuk lebih pandai membagi waktu dan termotivasi lada fase selanjutnya untuk menambah jumlah buku yang menjadi rutinitas baca Anda dam satu pekan.

Kesembilan belas, membaca sima’an bersama kawan.
Para ulama biasanya mempraktekkan metode ini untuk membaca kitab-kitab yang tebal, semacam Shohih Bukhori, Siyar A’laam an Nubala dan lainnya. Jadi buatlah kesepakatan dengan beberapa kawan Anda. Kemudian masing-masing tentukan batas jatah membacanya. Bisa perhalaman bisa perbab. Diantara manfaat metode membaca yang seperti ini adalah, menumbuhkan motivasi untuk berkumpul dalan rangka berbagi faidah dan akan mendorong diri kita untuk membaca kitab lebih banyak lagi.

Kedua puluh, sebagai selingan untuk mengusir kepenatan pikiran Anda, bacalah kitab-kitab tentang biografi ulama, sastra, sejarah, tazkiyatun nufus dll.
Karena sudah suatu hal yang lumrah bila jiwa manusia merasa bosan dengan aktivitas yang tidak variatif. Maka tak ada salahnya Anda mengusir kebosanan ini dengan melakukan aktivitas lain. Usahakan pengusir kepenatan ini adalah aktivitas yang bermanfaat dan menambah ilmu juga. Seperti membaca buku-buku yang disebut di atas. Atau dengan mendengar rekaman kajian dst (yang berfaidah).

Kedua puluh satu, bila Anda membeli buku baru, bacalah baik-baik judul, pengarang, muhaqiq muqodimahnya dan daftar isi.
Macam baca yang seperti ini disebut qiroah al istithlaa’iyyah (membaca sekilas untuk mengetahui isi buku secara global, sebagaimana telah kami singgung lada sesi mukodimah). Misal hari ini ada buku baru yang menempati rak buku Anda, dengan judul “asy-rotus saa’ah” (Tanda-tanda hari kiamat). Maka bca baik-baik judul bukunya, nama pengarangnya; dia ulama abad ke berapa, siapa muhaqiq kitab tersebut dll. Sehingga Anda memiliki latar pengetahuan terhadap setiap kitab yang Anda miliki, yang nantinya akan membantu sebagai pertimbangan untuk memilih kitab yang akan dibaca selanjutnya.

Kedua puluh dua, maksimalkan kemampuan Anda untuk hal-hal yang bermanfaat.
Sebagian pemuda dikaruniai hafalan yang kuat dan tekun membaca. Namun sayang, kelebihan ini tidak dia maksimalkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Kuat hafalannya, namun digunakan untuk mengahal aktor-aktor dalam komik naruto, nama pemain bola, artis-artis sinema dll. Tekun membaca, namun ia maksimalkan untuk membaca koran, komik, novel dll. Yang lebih miris, bila dzikir pagi petang saja belum hafal. Fikih sholat saja belum pernah dibaca.

Ada cerita yang menarik yang ditulis oleh Khotib al Baghdadi rahimahullah, dalam bukunya “Syarof Ash Haabi al Hadis“, setelah beliau membawakan sanad kisah ini kepada Ustman bin Ali rahimahullah. Ustman menceritakan, “Saya pernah mendengar A’masy berkata:

إذا رأيت الشيخ لم يقرأ القرآن ولم يكتب الحديث فاصفع له فإنه من شيوخ القمر

“Bila kalian melihat kiyai yang tidak pandai membaca Alquran dan tidak menulis hadis (menyusunnya dalam bab fikih atau mensyarahnya menjadi sebuah karya tulis. pent), maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah syuyukh al qomar. “

“Apa maksud syuyukh al qomar itu?” Tanya Abu Sholih.

شيوخ دهريون يجتمعون في ليالي القمر يتذاكرون أيام الناس ولا يحسن أحدهم أن يتوضأ للصلاة.

“Mereka para kiyai musiman, yang berkumpul di malam-malam hari pergantian bulan (hijriyah. pent). Kemudian mereka saling membicarakan hari-hari manusia, namun mereka belum bagus wudhunya.” (Syarof Ash Haabi al Hadis, hal. 67-68)

Oleh karena itu, kita mendapati, orang-orang yang keseringan mendengar nyanyian-nyanyian untuk tujuan merilekskan pikiran, mereka kurang minat untuk mendengarkan Al Qur’an. Bahkan bisa sampai tidak senang mendengarkan Al Qur’an. Demikian dikatakan Syaikhul Islam Ahmad bin Abdulhalim al Harroni -rahimahullah-. (Iqtidho ‘ Shirot Al-mustaqim, ta’liqnya Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 307)

Dan ini realita, sebagian orang betah lama membaca berlembar-lembar halaman koran, majalah otomotif (dll), komik dan novel. Mereka betah sampai berjam-jam. Alangkah sayangnya waktu bila dihabiskan hanya untuk membaca hal-hal yang demikian. Saat membaca Al Qur’an atau beberapa lembar syarah hadis, rasa bosan cepat datang. Sungguh ini musibah. Maka berusahalah untuk membiasakan diri untuk membaca buku-buku yang bermanfaat.

Dengan demikian, alhamdulillah, kita telah menyelesaikan serial tulisan mengenai kiat sukses membaca kitab. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk setiap yang membacanya, dan penulis berharap, semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai amalan yang ikhlas, yang bermanfaat di hari pertimbangan amal nanti. Selamat mencoba.

Wabillahit Taufiiq wal Hidayah.
____

Ditulis pagi hari, Ahad 2 Jumadal Akhir 1436 H, di sakan thullab Madinah Islamic University.

Ahmad Anshori
Alumni PP. Hamalatul Qur'an Yogyakarta. Mahasiswa Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
Artikel : Muslim.Or.Id
READ MORE - 22 Kiat Sukses Membaca Kitab (3)

22 Kiat Sukses Membaca Kitab (2)



Sekarang mari kita lanjutkan pada kiat-kiat selanjutnya:

Kiat Keenam: bacalah dulu muqodimah, sebelum menyelami inti pembahasan dari buku yang Anda baca
Ini akan sangat membantumu mengenal metode penulis dalam menyusun karyanya. Dari situ Anda akan tahu gambaran secara global isi daripada kitab yang akan dibaca, juga tentang latar belakang penulisan serta mengetahui makna istilah-istilah khusus yang dipakai oleh penulis. Jangan sampai nanti ketika membaca, terjadi salah menafsirkan istilah yang dipakai penulis.

Sebagai contoh, makna rumus huruf Qof (arab: ق) dalam kitab Taqribu at Tahdzib karya Ibnu Hajar, berbeda maknanya dengan rumus huruf Qof yang terdapat dalam kitab al Jami’ as Shoghir karya Imam as Suyuthi. Dalam Taqribu at Tahdzib, huruf Qof bermakna: hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah. Adapun dalam al Jami’ as Shoghir, huruf qof memiliki makna: muttafaqun ‘ alaihi (hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim).

Begitu pula istilah muttafaqun ‘ alaihi sendiri teenyata terdapat beberapa penafsiran. Menurut penulis kitab Muntaqo al Akhbar; Majdudin Ibnu Taimiyyah, muttafaqun ‘ alaihi bermakna hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhori, dan Imam Muslim. Berbeda dengan pemaknaan para muhaddist (ahli hadis) lainnya, mereka memaknai muttafaqun ‘ alaihi dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim saja.

Hal-hal yang semacam ini, dijelaskan dalam muqodimah kitab Taqribu at Tahdzib. Ini baru masalah makna istilah saja, ternyata ada beberapa perbedaan. Terlebih tentang metode penyusunan bab, rumusan masalah dan lain sebagainya. Yang hal-hal semacam inI, perlu diketahui oleh pembaca. Agar ia memiliki gambaran dan pemetaan terhadap buku yang hendak ia baca.

Mengetahui biografi penulis juga tak kalah penting. Dengan membaca biografi penulis, Anda akan semakin cinta kepadanya dan akan tahu mengenal kredibilitas ilmiahnya. Sehingga Anda akan semangat membaca karyanya. Dan semakin mantap untuk menyimak pemaparan yang disampaikan penulis dalam buah karyanya. Tak jarang pula kita dapati motivasi-motivasi berharga dari perjalanan hidup penulis dalam mencari ilmu. Disitu kita bisa mengambil pelajaran.
Ketujuh: untuk kitab syarah, pilihlah kitab syarah yang paling mukhtashor (ringkas)
Kitab at Tauhid misalnya, banyak para ulama yang telah men-syarahnya. Maka mulailah membaca syarah yang paling ringkas dan mudah terlebih dahulu. Bisa dari kitab Fathul Majid atau bisa juga memulai dari kitab Taisir al ‘Aziz al Hamid atau kitab Qoulul Mufid karya Syaikh Ibnu ‘Utsaiminrahimahullah.
Kedelapan: saat membaca, usahakan jangan berhenti di tengah pembahasan
Bisa Anda jadikan sub-sub bab sebagai batasan target. Atau misal Anda membaca kitab fikih tentang sholat, Anda bisa menjadikan bab takbirotul ihrom sampai bab sujud sebagai pembatas bacaan. Atau menjadikan halaman-halaman buku sebagai target bacaan setiap harinya juga boleh. Yang terpenting, jangan sampai berhenti di tengah-tengah pembahasan. Karena model membaca yang seperti ini, akan membuat ma’lumat yang terekam jadi mengambang.
Kesembilan: tulis tanggal Anda mulai membaca suatu kitab. Kemudian saat sudah khatam membaca, tulis pula tanggalnya
Saat Anda memulai membaca kitab al Fawaid karya Ibnul Qoyyim misalnya, tulislah di halaman awal buku, tanggal, hari, bulan dan tahun Anda memulai membacanya. Kemudian ketika selesai membaca sampai akhir halaman, tuliskan tanggal, hari, bulan, tahun Anda mengkhatamkan kitab tersebut.

Tujuannya adalah:
Pertama, karena memang ini adalah kebiasaan para ulama ketika membaca buku. Sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abdulaziz as Sadhan dalam bukunya; Ya tholibal ‘ilm kaifa tahfadh kaifa taqro’ kaifa tafham.

Kedua, menumbuhkan semangat membaca yang lebih tinggi. Saat Anda sedang membaca, Anda melihat tanggal mulai membaca sudah jauh berlalu. Saat itulah semangat Anda untuk menyelesaikan bacaan semakin tinggi.

Disamping itu, metode ini juga membantu Anda dalam mengevaluasi hari-hari Anda dan Instropeksi diri. Misal saat Anda selesai membaca sebuah kitab, ternyata antara tanggal mulai dengan tenggal selesai, jaraknya cukup lama, di situlah Anda akan menyadari pentingnya menjaga waktu dan termotivasi untuk tidak menghabiskannya untuk hal yang kurang manfaat.
Kesepuluh: jangan terburu-buru untuk ingin cepat selesai
Dalam membaca, yang menjadi tujuan bukan cepat selesai meng-khatamkan bacaan. Akan tetapi, target pokoknya adalah mengambil faidah-faidah yang terdapat dalam buku. Terlebih bila buku yang dibaca adalah buku yang membahas permasalah rumit, seperti fikih muamalah misalnya. Maka ini membutuhkan konsentrasi yang tidak sedikit. Para ulama kita menasehatkan,

لا تحرم نفسك بسبب التعجل

“Jangan engkau halangi dirimu untuk meraih ilmu, disebabkan karena ketergesaanmu”
Kesebelas: fokuskan perhatian
Saat membaca sebuah kitab, terkadang menemui beberapa kata yang belum tahu artinya. Akhirnya kita terdorong untuk mencarinya di kamus. Nah, keseringan membuka kamus, akan membuyarkan konsentrasi.

Tapi bagaimana lagi, padahalkan memang perlu?

Begini sahabat yang dirahmati Allah, perlu kita ketahui bahwa, kata yang belum diketahui artinya saat membaca sebuah kitab, ada dua macamnya:
  1. Kata-kata yang sangat berpengaruh dalam memahami konteks kalimat atau paragraf. Artinya, Anda tidak bisa memahami konteks sebuah kalimat atau paragraf, kecuali dengan mengetahui arti kata tersebut. Untuk model kata yang seperti ini, Anda harus mencari artinya di kamus. Karena kepahaman Anda terhadap teks kalimat atau suatu paragraf, bermuara pada arti kata tersebut. Ingat, saat proses pencarian dalam kamus, fokuskan pencarian pada kata yang Anda maksudkan. Jangan tersibukkan dengan mufrodat-mufrodat lainnya. Fokuskan dulu pencarian pada makna kata yang Anda cari. Untuk mufrodat-mufrodat lainnya yang dirasa penting juga, bisa Anda beri tanda kemudian nanti usai membaca, bisa diruju’ kembali.
  2. Kata-kata yang tidak terlalu berpengaruh dalam memahami konteks sebuah kalimat atau paragraf. Untuk kata jenis ini, sebaiknya Anda lewati dulu, dan lanjutkan bacaan Anda. Nanti bisa Anda cari artinya setelah usai membaca. Agar konsentrasi terjaga dan tidak banyak memakan waktu.
Bersambung insyaAllah pada serial tulisan “22 Kiat Sukses Membaca Kitab, bagian 3“. Ikuti terus seri tulisan ini. Semoga bermanfaat.

***

Madinah Islamic University, asrama unit 8. 16 Jumadal Ula 1436H

Penulis : Ahmad Anshori
Alumni PP. Hamalatul Qur'an Yogyakarta. Mahasiswa Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
Artikel : Muslim.Or.Id
READ MORE - 22 Kiat Sukses Membaca Kitab (2)

22 Kiat Sukses Membaca Kitab (1)



Banyak keluhan dari para penuntut ilmu, mengenai susahnya merekam faidah yang terdapat dalam kitab yang telah dia baca. Biasanya, satu kitab telah usai dibaca, namun faidah-faidah yang ia temui di dalam kitab, seperti lalu begitu saja.

Berangkat dari keluhan inilah, penulis -dengan memohon taufik kepada Allah- ingin berbagi sedikit tentang tips-tips sukses membaca buku atau menela’ah kitab para ulama. Agar membaca menjadi lebih menyenangkan, dan benar-benar menjadi jendela ilmu.

Macam-Macam Model Membaca
Sebelum memulai pemaparan mengenai kiat-kiat membaca, alangkah baiknya bila kita mengenal terlebih dahulu mengenai macam membaca buku. Ternyata ada bermacam-macam modelnya. Ada jenis membaca yang serius, kemudian ada yang agak serius, ada yang santai. Apa gerangan?

Syaikh Abdulaziz bin Abdulloh Sadhan menyebutkan ada tiga jenis membaca buku:
  1. Qiro-ah dirosiyyaah (Membaca untuk tujuan belajar )
  2. Qiro-ah tarwihiyyah (Membaca untuk tujuan mengistirahatkan otak)
  3. Qiro-ah isthit laa’iyyah (Membaca untuk tujuan mengetahui sekilas isi buku)
Jenis yang pertama, adalah sasaran pokok dari aktivitas membaca. Yang kedua hanya sebagai sampingan; sekedar untuk menghilangkan kepenatan otak. Ini bisa dilakukan seperti dengan mebaca buku sastra atau kisah-kisah para ulama dll. Para ulama kita dahulu menasehatkan,

“Seyogyanya bagi seorang penuntut ilmu memiliki agenda khusus untuk menghilangkan kepenatan fikiran. Bisa dengan membaca buku-buku sastra, atau kisah-kisah valid perihal kehidupan para ulama misalnya”

Adapun jenis membaca yang ketiga, adalah membaca dengan sekilas, untuk sekedar mengetahui kandungan isi buku secara global. Seperti untuk membuat rensensi misalnya.
Kiat-Kiat Sukses Membaca Buku
Setelah kita menyimak muqodimah singkat di atas, sekarang mari kita masuk pada inti pembahasan dari serial tulisan kali ini;

22 kiat sukses membaca kitab.
Kiat Pertama: Pilih waktu khusus untuk membaca buku.
Seorang penuntut ilmu harus memiliki waktu khusus untuk membaca buku. Pandai-pandailah mengatur waktu. Bila perlu buat jadwal. Agar teratur dan disiplin dalam menjalani aktivitas ini. Sehingga hasilnya pun maksimal.

Kemudian suatu hal yang perlu dicatat juga oleh para penuntut ilmu; mengingat posisi Anda saat ini sebagai pelajar, maka jadikanlah aktivitasmenuntut ilmu sebagai agenda utama dan patokan dari agenda-agenda lainnya yang Anda jalani. Artinya bila ada agenda lain yang kebetulan bertabrakan dengan jadwal belajar Anda, maka jangan jadwal belajar Anda yang jadi korban. Akan tetapi, batalkan agenda yang bertabrakan tersebut. Tolaklah dengan baik. Jelaskan maksud Anda kepada kawan yang mengajak Anda sekedar untuk ngabuburit di warung kopi atau nobar pertandingan klub sepakbola. InsyaAllah dia bisa memaklumi. Bahkan bisa jadi, secara tidak disadari sikap Anda menyadarkan kawan Anda, akan berharganya waktu.

Kemudian berusahalah untuk komitmen terhadap jadwal Anda. Jangan jadikan membaca buku hanya untuk sampingan saja, artinya hanya saat-saat sempat saja. Bagi Anda yang sedang melalui jenjang menuntut ilmu, maka dahulukanlah menuntut ilmu dari agenda lainnya. Kecuali bila memang ada agenda yang mendesak dan tidak bisa diakhirkan.
Kedua: Memilih tempat yang cocok untuk membaca.
Pilihlah tempat yang cocok dan nyaman untuk membaca buku. Jangan biarkan ada hal-hal yang bisa menganggu kenyamanan Anda saat membaca. Supaya Anda betah bergumul dengan buku dan bisa maksimal mengambil faidah dari buku yang Anda baca.
Ketiga: Bertanyalah kepada yang lebih senior sebelum memilih buku yang akan Anda baca.
Terkadang seorang pelajar membaca sebuah buku, tanpa ia sadari ternyata ada buku lain yang lebih ringkas, lebih mudah gaya bahasanya dan lebih cocok untuk jenjangnnya saat ini. Namun karena ketidaktahuannya, akhirnya dia memilih buku yang sebenarnya belum cocok untuk dibaca saat ini. Akhirnya banyak waktu yang terkorbankan, namun faidah yang didapat sedikit.

Misal dalam benak Anda ada beberapa buku yang rasanya ingin ditela’ah. Misal ada Syarah al-Arba’in Nawawi, Syarah Bulughul Marom, dan Minhajus Saalikin. Bingung nih mau mulai dari mana. Ya, jangan segan-segan untuk konsultasi terlebih dahulu kepada ustadz atau pelajar yang lebih senior. Supaya Anda mendapat arahan untuk membaca buku yang sesuai dengan tingkatan Anda saat ini.

Untuk kisi-kisi, dalam membaca, mulailah dari buku-buku yang membahas hal-hal dasar terlebih dahulu. Masalah rukun iman dan rukun islammisalnya. Barulah setelah itu lanjutkan pada buku-buku yang lebih rinci.
Keempat: Pilihlah buku yang kualitas cetakan terbaik.
Beberapa buku diterbitkan oleh banyak penerbit. Sebagian penerbit kurang proposional. Sehingga didapati banyak kesalahan tulis, seperti sisipan-sisipan tambahan (yang mengubah keontetikan buku) dan paragraf-paragaraf atau beberapa halaman yang hilang. Hal-hal seperti ini akan bisa menimbulkan pemahaman yang keliru dari yang dimaksudkan oleh penulis. Dan tentu akan menyusahkan pembaca dalam memahami uraian-uraian yang terdapat buku tersebut dengan baik.

Seperti yang pernah penulis alami. Waktu itu penulis membeli buku syarah Akidah Thohawiyah, karya Ibnu Abil’iz al Hanafi rahimahullah. Terbitan salah satu penerbit Mesir. Saat dibaca, ternyata ada beberapa praragraf yang tidak nyambung. Setelah kami lihat pada cetakan versi penerbit lain, ternyata ada 4 lembar halaman yang hilang. Agar tidak terulang kembali, maka kami sarankan kepada kawan-kawan sekalian; yang dirahmati Allah, untuk lebih selektif dalam memilih cetakan buku dan bertanya terlebih dahulu kepada senior atau ustadz kalian.
Kelima: Mulailah membaca buku yang dasar dan ringkas terlebih dahulu.
Tabi’at para pemuda memiliki semangat yang tinggi. Biasanya semangat ini begitu terasa di awal-awal membaca buku. Tidak diragukan ini merupakan karunia yang harus disyukuri. Namun yang disayangkan, saking semangatnya, iapun memilih untuk membaca buku yang muthowwalat(tebal) atau rumit pembahasannya, tanpa membekali terlebih dahulu dengan buku-buku dasar.

Akhirnya, tak perlu lama ia membaca, rasa malas dan bosan untuk melanjutkan bacaan menghampirinya. Disebabkan karena kesulitan dalam memahami pemaparan yang ada dalam buku tersebut. Karena buku tersebut ditulis, bukan ditujukan untuk jenjangnnya. Jadi tidak mengherankan bila kemudian daya naralnya belum mampu menjangkau banyak pemaparan dalam kitab muthowwalat. Kalaupun ada beberapa maklumat yang berhasil ia tangkap, itu hanya sebatas tsaqofah (wawasan), bukan ta’shil al-‘lm (pengetahuan yang kokoh).

Oleh karenanya, mulailah dari kitab-kitab dasar terlebih dahulu. Barulah setelah itu bertahap pada kitab-kitab selanjutnya. Karena perjalanan mencari ilmu ini panjang. Tidak bisa ilmu yang mulia ini diraih dengan cara instans begitu saja. Butuh kesungguhan dan tahapan-tahapan yang harus dilalui. Sampai ia bisa meraih puncak dari disiplin yang ia pelajari. Dengan pondasi ilmiyyah yang kuat. Para ulama kita menasehatkan,

من أراده عجلا تركه عجلا

“Barangsiapa menginginkan ilmu secara instans, maka ilmu akan pergi secara instan pula.”

ومن لم يتقن الأصول حرم الوصول

“Barangsiapa yang tidak memperkuat dasar keilmuannya, maka ia tidak akan bisa mencapai puncak ilmu.”

Bersambung ke artikel “22 Kiat Sukses Membaca Kitab (2)”


***

Catatan:
Kiat-kiat yang kami uraikan di atas dan pada serial tulisan selanjutnya, merupakan faidah yang kami dapatkan dari buku karya Syaikh Abdulaziz Muhammad bin Abdullah As-Sadhan, yang berjudul: Ya tholibal ‘ilmi kaifa tahfadh kaifa taqro’ kaifa tafham.” Terbitan Dar al-Atsariyyah, Mesir.

Jami’ah Islamiyah Madinah An-Nabawiyyah, 2 Jumadas Tsani 1436 H

Penulis: Ahmad Anshori
Alumni PP. Hamalatul Qur'an Yogyakarta. Mahasiswa Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
Artikel: Muslim.Or.Id
READ MORE - 22 Kiat Sukses Membaca Kitab (1)

Kelezatan Ilmu Syar’i Vs. Konser Musik



Puluhan ribu orang menghadiri tabligh akbar Fadhilatusy Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr hafidzahumallah (Guru Besar Universitas Islam Madinah dan Pengajar tetap di Masjid Nabawi, Kota Al-Madinah An-Nabawiyyah) di Masjid Istiqlal, Jakarta, belum lama ini. Jumlah yang sebanding atau mungkin jauh lebih banyak daripada jumlah yang menghadiri konser-konser nyanyian dan musik. Hal ini seolah mengingatkan kita pada semangat para ulama dan orang-orang zaman dahulu yang belajar ilmu agama, ketika majelis-majelis ilmu para ulama biasa dihadiri oleh puluhan ribu orang, meskipun sarana transportasi dan pengeras suara ketika itu tentu masih sangat terbatas [1]. Inilah kenikmatan dan kelezatan yang diraih para salaf dahulu, yaitu kenikmatan tholabul ‘ilmi syar’i (menuntut ilmu agama), yang semakin langka didapatkan pada zaman yang penuh kemewahan dunia ini.
Kelezatan Menuntut Ilmu Syar’i

Sesungguhnya, kelezatan dan kenikmatan yang hakiki tidak terletak pada makanan, tidur, minuman, atau hubungan badan. Mengapa? Karena berbagai kelezatan dan kenikmatan ini adalah kenikmatan jasad semata yang juga dimiliki oleh binatang. Kenikmatan yang hakiki hanyalah terletak pada ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta’ala, kenikmatan tholabul ‘ilmi, yaitu kenikmatan yang dirasakan oleh hati dan ruh. Kenikmatan ini hanyalah dirasakan oleh orang beriman, dan tidak dirasakan oleh makhluk yang lainnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَالنِّعْمَةُ نِعْمَتَانِ: نِعْمَةٌ مُطْلَقَةٌ وَنِعْمَةٌ مُقَيَّدَةٌ. فَالنِّعْمَةُ الْمُطْلَقَةُ: هِيَ الْمُتَّصِلَةُ بِسَعَادَةِ الْأَبَدِ وَهِيَ نِعْمَةُ الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ وَهِيَ النِّعْمَةُ الَّتِي أَمَرَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنْ نَسْأَلَهُ فِي صَلَاتِنَا أَنْ يَهْدِيَنَا صِرَاطَ أَهْلِهَا

”Nikmat itu ada dua, (yaitu) nikmat muthlaqoh (nikmat yang bersifat mutlak) dan (nikmat) muqoyyadah (nikmat yang bersifat relatif)). Nikmat muthlaqoh adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat Islam dan Sunnah. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa kita agar Alloh menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu kepadanya.” [2]

Para ulama salaf kita yang mulia telah menyadari hal ini. Mereka telah merasakan kelezatan dengan menuntut ilmu syar’i, menikmati membolak-balik lembaran kitab, dan mereka pun telah merasakan “kenikmatan” dalam berbagai derita yang mereka alami di jalan ilmu. Bahkan, kelezatan yang mereka rasakan dengan menghafal hadits nabawi; menemukan jalan keluar permasalahan-permasalahan ilmiah; begadang untuk menulis pembahasan ilmu syar’i; atau menulis kitab yang bermanfaat untuk umat, adalah lebih besar daripada kelezatan yang diraih oleh para ahli maksiat dengan maksiat yang dia lakukan atau lebih besar dari perhiasan ahli dunia dengan berbagai dunia, istri, dan harta-harta mereka.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمن لم يغلب لَذَّة إِدْرَاكه الْعلم وشهوته على لَذَّة جِسْمه وشهوة نَفسه لم ينل دَرَجَة الْعلم ابدا فَإِذا صَارَت شَهْوَته فِي الْعلم ولذته فِي كل إِدْرَاكه رجى لَهُ ان يكون من جملَة اهله وَلَذَّة الْعلم لَذَّة عقلية روحانية من جنس لَذَّة الْمَلَائِكَة وَلَذَّة شهوات الاكل وَالشرَاب وَالنِّكَاح لَذَّة حيوانية يُشَارك الانسان فِيهَا الْحَيَوَان

”Barangsiapa yang tidak bisa memenangkan kelezatan mengenal ilmu dan syahwat (terhadap ilmu) di atas kelezatan badan dan nafsu syahwatnya, maka dia tidak akan meraih derajat ilmu sama sekali. Apabila syahwatnya tertuju pada ilmu dan kelezatannya tertuju pada meraih ilmu tersebut, maka bisa diharapkan bahwa dia termasuk dalam orang yang berilmu. Kelezatan menuntut ilmu adalah kelezatan bagi akal dan ruh, sejenis dengan kelezatan (yang dirasakan) malaikat. Adapun kelezatan syahwat, makanan, minuman, dan hubungan badan adalah kelezatan khayawaniyyah (kebinatangan), yang di dalamnya bersekutu antara manusia dan hewan.” [3]

Bagaimanakah para Ulama Salaf Meraih Kelezatan Ilmu Syar’i
Pada suatu malam Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad An-Nisfi rahimahullah tidak bisa tidur karena pikirannya sedang sedih dan susah memikirkan kemiskinannya dan hutangnya yang sangat banyak. Ketika beliau dalam keadaan seperti itu, terlintas dalam benaknya suatu masalah ilmiah yang membingungkan dirinya. Maka dia pun memikirkan dan menelaah masalah tersebut, serta melupakan kondisi kemiskinannya. Maka Allah Ta’ala pun membukakan dan memudahkan beliau untuk menemukan jawabannya. Beliau langsung bangkit di kegelapan malam dan bersuka cita karena sangat gembira. Beliau berkata,”Di manakah raja?? … Di manakah raja??” Istrinya bertanya kepada beliau, dan beliau pun mengabarkan kepada istrinya itu tentang jawaban suatu masalah yang telah beliau temukan. Istrinya pun sangat terkejut, karena dia mengira bahwa suaminya bersuka cita karena menemukan jalan keluar atas kemiskinan dan hutang-hutangnya. [4]

Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam rahimahullah menulis kitab Ghoribul Hadits selama empat puluh tahun. Beliau menceritakan kondisinya saat menulis kitab tersebut. Beliau berkata,”Terkadang aku menemukan faidah dari perkataan para ulama. Maka aku tambahkan faidah itu di kitabku. Sampai-sampai aku begadang sepanjang malam karena sangat gembira mendapatkan faidah itu”. [5]

Abul Ma’aali Al-Juwaini rahimahullah berkata,”Aku tidak memiliki waktu makan dan minum secara khusus. Aku tidur jika memang sudah sangat mengantuk, baik di siang hari maupun malam hari. Aku makan jika muncul keinginan untuk makan pada saat kapan saja. Kenikmatan, permainan dan hiburanku adalah dengan memikirkan ilmu dan meraih faidah.” [6]

Nadzr bin Syamiil rahimahullah berkata,”Seseorang tidaklah mendapatkan kelezatan ilmu sampai dia lapar dan melupakan rasa laparnya”. [7]

Kenikmatan yang telah diraih para ulama di atas dengan ilmu mereka telah mengalahkan berbagai kenikmatan duniawi lainnya, termasuk kenikmatan dan kecintaan musik dan nyanyian. Kenikmatan seseorang dalam aktivitas tholabul ‘ilmi akan menyingkirkan dan mengalahkan kenikmatan dan kecintaan terhadap musik dan nyanyian. Taruhlah jika pada zaman dahulu sudah ada konser-konser musik, maka akal sehat dan fitrah yang bersih akan cenderung meng-asosiakan konser-konser musik itu dengan orang-orang yang terhalang dari meraih kelezatan ilmu dan ibadah. Adapun para ulama, orang-orang yang shalih, tentu mereka akan memilih menghadiri majelis-majelis ilmu, karena di situlah letak kelezatan dan kebahagiaan mereka di dunia ini.

Kecintaan seseorang terhadap musik dan nyanyian akan menyingkirkan kecintaan terhadap ilmu, dan juga kecintaan terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidaklah mungkin kecintaan terhadap ilmu dan kecintaan terhadap musik dan nyanyian akan berkumpul dalam satu jiwa yang sama. Realita kaum muslimin saat ini menunjukkan, didorong oleh rasa cinta mereka terhadap musik dan nyanyian, mereka sampai hapal puluhan lirik lagu (dan siapa penyanyinya) dengan begitu mudahnya, namun mereka sulit untuk diajak menghapal Al-Qur’an. Maka benarlah bahwa nyanyian merupakan salah satu cara setan untuk menjauhkan manusia dari jalan ilmu, jalan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

ζ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman [31]: 6)

Tentang maksud dari firman Allah Ta’ala “perkataan yang tidak berguna” dalam ayat di atas, salah seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’udradhiyallahu ‘anhu berkata,”Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia semata, (yang dimaksud dengan ‘perkataan yang tidak berguna’) adalah nyanyian”. Beliau mengulangi sumpahnya tersebut sampai tiga kali. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ma’khul, Amr bin Syu’aib, dan Ali bin Badzimah radhiyallahu ‘anhum. [8]

Semoga Allah Ta’ala memberikan anugerah kepada kita untuk tetap istiqomah dalam meraih kelezatan dan kenikmatan ilmu syar’i.

Selesai disusun ba’da isya’, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 28 Jumadil Ula 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim
Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 - sekarang)
***
Catatan kaki:

[1] Silakan disimak tulisan sahabat kami di:

http://muslimafiyah.com/majelis-ilmu-mengalahkan-konser-musik.html

[2] Ijtima’ Al Juyuus Al Islamiyyah, hal. 2/33 (Maktabah Syamilah).

[3] Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/142 (Maktabah Syamilah).

[4] Diringkas dari Al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir, 17/12. Dikutp dari Kaifa Tatahammasu li Thalabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 130.

[5] Thabaqat Al-Hanabilah, 1/261. Dikutp dari Kaifa Tatahammasu li Thalabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 130.

[6] Tabyiinu Kadzbil Muftari, karya Ibnu Asakir Ad-Dimasyqi. Dikutp dari Kaifa Tatahammasu li Thalabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 132.

[7] Tadzkiratul Huffaadz, 1/314. Dikutp dari Kaifa Tatahammasu li Thalabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 132.

[8] Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, 6/330-331.

Artikel Muslim.Or.Id
READ MORE - Kelezatan Ilmu Syar’i Vs. Konser Musik

SIAPAKAH SEBENARNYA ABU NUWAS (ABU NAWAS)?


HARUN AL RASYID DAN ABU NUWAS (ABU NAWAS)

Konon pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid –salah satu khalifah Daulah Bani Abbasiyyah- hiduplah seorang pujangga yang bernama Abu Nuwas (Abu Nawas). Khalifah mempunyai hubungan dekat dengan Abu Nuwas ini, sedangkan Abu Nuwas adalah seorang yang suka meminum minuman keras, bermain dengan wanita, mendengarkan musik, berjoget, dan berdansa, serta perbuatan lain semisalnya, sehingga khalifah pun banyak melakukan itu semua karena kedekatannya dengan Abu Nuwas.

Kemasyhuran Kisah Ini
Kisah ini sangat masyhur di negeri nusantara dan mungkin juga di berbagai belahan bumi Islam lainnya. Banyak komik yang ditulis, lalu dikonsumsi oleh semua kalangan yang menggambarkan bagaimana bejatnya perbuatan khalifah ini beserta teman karibnya Abu Nuwas. Sehingga kalau disebut di kalangan orang banyak tentang Harun Al Rasyid, maka yang terbetik dalam bayangan mereka adalah gambaran raja tanpa wibawa yang suka main musik dan wanita diiringi dengan minum khamr (minuman keras). Jarang sekali di antara kaum muslimin mengetahui siapa sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid kecuali dari cerita yang beredar ini.

Akar Cerita
Asal-usul utama cerita ini bersumber dari sebuah buku dongengg Alfu Lailatin wa Lailah (cerita seribu satu malam). Buku ini dari lembar pertama sampai terakhir hanyalah berisi dongeng. Dan yang namanya “dongeng” berarti ia tidak punya asal-usul sanad yang terpercaya. Isinya pun hanyalah khayalan belaka; misalnya, cerita tentang Ali Baba dengan perampok, kisah Aladin dengan lampu ajaibnya, begitu pula cerita tentang Abu Nuwas dengan Harus Al Rasyid.

Buku ini asal-usulnya adalah dongeng yang berasal dari bangsa India dan Persia. Lalu dialih bahasakan ke dalam bahasa Arab pada sekitar abad ketiga Hijriah. Kemudian ada yang menambahi beberapa ceritanya sehingga sampai masa Daulah Mamalik.

Buku ini sama sekali bukan buku sejarah, dan sama sekali tidak bisa menjadi landasan untuk mengetahui keadaan umat tertentu.

Oleh karena itu, para ulama sepakat untuk men-tahdzir (memperingatkan) atas buku ini dan melarang umat untuk membaca dan menjadikannya sebagai landasan sejarah. Di antara mereka adalah Al-Ustadz Anwar Al Jundi yang berkata, “Buku Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah buku yang campur baur tanpa penulis. Buku ini disusun dalam rentang waktu yang bermacam-macam. Kebanyakan isinya menggambarkan tentang keadaan sosial masyarakat sebelum kedatangan Islam di negeri persia, India, dan berbagai negeri paganis lainnya.” Ibnu Nadim dalam Al-Fahrosat berkata tentang buku ini, “Itu adalah buku yang penuh dengan kedunguan dan kejelekan.”

Dan masih banyak lainnya. Silakan melihat apa yang dipaparkan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam Kutubun Hadzdzara minha Ulama, 2:57.

Syaikh Shalih Al Fauzan pernah ditanya, “Sebagian buku sejarah terutama buku Alfu Lailatin wa Lailah menyebutkan bahwa Khalifah Harun Al Rasyid adalah seorang yang hanya dikenal sebagai orang yang suka bermain-main, minum khamr dan lainnya. Apakah ini benar?”

Beliau menjawab: “Ini adalah kedustaan dan tuduhan yang dihembuskan ke dalam sejarah Islam. Buku Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah buku yang tidak boleh dijadikan sandaran. Tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan waktunya untuk menelaah buku tersebut. Harun Al Rasyid dikenal sebagai orang yang Shalih dan istiqomah dalam agamanya, serta sungguh-sungguh dan bagus dalam mengatur masyarakatnya. Beliau satu tahun menunaikan haji dan tahun berikutnya berjihad. Ini adalah sebuah kedustaan yang terdapat ke dalam buku ini. Tidak layak bagi seorang muslim untuk membaca buku kecuali yang ada faidahnya, seperti buku sejarah yang terpercaya, buku tafsir, hadis, fiqih, dan aqidah yang dengannya seorang muslim akan bisa mengetahui urusan agamanya. Adapun buku yang tidak berharga, tidak selayaknya seorang muslim terutama penuntut ilmu menyia-nyiakan waktunya dengan membaca buku seperti itu.” (Nur Ala Darb, Fatawa Syaikh Shalih Fauzan Hal. 29)

Hakikat Cerita Ini
Dari keterangan di atas, tiada lagi keraguan bahwa kisah tentang Khalifah Harun Al Rasyid seperti yang digambarkan tadi adalah sebuah kedustaan. Banyak sekali para ulama yang menyatakan bahwa itu adalah sebuah kedustaan, di antara mereka ialah:

– Syaikh Shalih Fauzan, sebagaimana nukilan dari beliau di atas.

– Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, beliau berkata: “Ini merupakan kedustaan yang jelas dan kezaliman yang nyata…” (Fatawa Islamiyyah, 4:187)

– Syaikah Salim bin Id Al-Hilali berkata, “Kita harus membersihkan sejarah Islam dari hal-hal yang digoreskan oleh para pemalsu dan pendusta beserta cucu-cucu mereka bahwa sejarah Islam merupakan panggung anak kecil, musik, dan nyanyian. (Mereka gambarkan) para khalifah kaum muslimin sebagaimana yang dilakukan oleh para perusak tersebut dalam menodai sejarah Khalifah Harun Al Rasyid dan yang lain.” (Al-Jama’at Islamiyyah, Hal. 430)

Atas dasar ini, maka alangkah baiknya kalau kita sedikit mengetahui perjalanan hidup kedua orang ini, agar kita bisa mengetahui siapa sebenarnya Abu Nuwas juga siapa dan bagaimana sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid.

SIAPAKAH ABU NUWAS (ABU NAWAS)?
Dia adalah Abu Ali Hasan bin Hani’ al-Hakami, seorang penyair yang sangat masyhur pada zaman Bani Abbasiyyah.

Kepiawaiannya dalam menggubah qoshidah syair membuat dia sangat terkenal di berbagai kalangan, sehingga dia dianggap sebagai pemimpin para penyair di zamannya.

Namun amat disayangkan, perjalanan hidupnya banyak diwarnai dengan kemaksiatan, dan itu banyak juga mewarnai syair-syairnya. Sehingga saking banyaknya dia berbicara tentang masalah khamr, sampai-sampai kumpulan syairnya ada yang disebut khamriyyat.

Abu Amr Asy-Syaibani berkata, “Seandainya Abu Nuwas tidak mengotori syairnya dengan kotoran-kotoran ini, niscaya syairnya akan kami jadikan hujjah dalam buku-buku kami.”

Bahkan sebagian orang ada yang menyebutnya sebagai orang yang zindiq meskipun pendapat ini tidak disetujui oleh sebagian ulama. Di antara yang tidak menyetujui sebutan zindiq ini untuk Abu Nuwas adalah Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (14:73), ketika menyimpulkan tentang kehidupan Abu Nuwas beliau berkata, “Kesimpulannya, para ulama banyak sekali menceritakan peristiwa kehidupannya, juga tentang syair-syairnya yang mungkar, penyelewengannya, kisahnya yang berhubungan dengan masalah khamr, kekejian, suka dengan anak-anak kecil yang ganteng serta kaum wanita sangat banyak dan keji, bahkan sebagian orang menuduhnya sebagai pezina. Di antara mereka juga ada yang menuduhnya sebagai seorang yang zindiq. Di antara mereka ada yang berkata: ‘Dia merusak dirinya sendiri.’ Hanya saja, yang tepat bahwa dia hanyalah melakukan berbagai tuduhan yang pertama saja, adapun tuduhan sebagian orang yang zindiq, maka itu sangat jauh dari kenyataan hidupnya, meskipun dia memang banyak melakukan kemaksiatan dan kekejian.”

Akan tetapi, walau bagaimanapun juga disebutkan dalam buku-buku sejarah bahwa dia bertaubat di akhir hayatnya; semoga memang demikian dan menunjukkan taubatnya adalah sebuah syair yang ditulisnya menjelang wafat:

Ya Allah, jika dosaku teramat sangat banyak
namun saya tahu bahwa pintu maaf-Mu lebih besar

Saya berdoa kepada-Mu dengan penuh tadharru’ sebagaimama Engkau perintahkan
Lalu jika Engkau menolak tangan permohonanku, lalu siapa yang akan merahmati-ku

Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja
Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon

Saya tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali hanya sebuah pengharapan
Juga bagusnya pintu maaf-Mu kemudian saya pun seorang yang muslim

Semoga Allah menerima taubatnya dan memaafkan kesalahannya, karena bagaimanapun juga dia mengakhiri hidupnya dengan taubat kepada Allah. Dan semoga kisah yang diceritakan oleh Ibnu Khalikan dalam Wafyatul-A’yan2:102 benar adanya dan menjadi kenyataan. Beliau menceritakan dari Muhammad bin Nafi berkata, “Abu Nuwas adalah temanku, namun terjadi sesuatu yang menyebabkan antara aku dengan dia tidak saling berhubungan sampai aku mendengar berita kematiannya. Pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengannya, kukatakan, ‘Wahai Abu Nuwas, apa balasan Allah terhadapmu?’ Dia menjawab, ‘Allah mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kututlis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.’ Maka saya pun mendatangi keluarganya dan menanyakan bantal tidurnya dan akhirnya kutemukan secarik kertas yang bertuliskan: … (lalu beliau menyebutkan bait syair di atas).”

Setelah mengetahui sekelumit tentang Abu Nuwas, marilah kita beranjak utuk membahas siapakah sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid.

Beliau adalah Amirul-Mukminin Harun Al Rasyid bin Mahdi al-Qurasyi al-Hasyimi. Beliau adalah salah satu Khalifah Bani Abbasiyyah, bahkan pada masa beliaulah Bani Abbasiyyah mencapai zaman keemasannya.

Beliau dikenal sebagai raja yang dekat dengan ulama, menghormati ilmu, dan banyak beribadah serta berjihad. Disebutkan dalam berbagai buku sejarah yang terpercaya bahwa beliau selalu berhaji pada suatu tahun dan tahun berikutnya berjihad, begitulah seterusnya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Perjalanan hidup beliau sangat bagus. (Beliau) seorang raja yang paling banyak berjihad dan menunaikan ibadah haji. Setiap hari beliau bershodaqoh dengan hartanya sendiri sebanyak seribu dirham. Kalau pergi haji beliau juga menghajikan seratus ulama dan anak-anak mereka, dan apabila beliau tidak pergi haji, maka beliau menghajikan tiga ratus orang. Beliau suka sekali bershodaqoh. Beliau mencintai para ulama dan pujangga. Cincin beliau bertuliskan kalimat La ilaha ilallah, beliau mengerjakan shalat setiap harinya seratus rakaat sampai meninggal dunia. Hal ini tidak pernah beliau tinggalkan kecuali kalau sedang sekit.” (Al-Bidayah wa Al-Nihayah, 14:28)

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ammar bin Laits al-Wasithi berkata, ‘Saya mendengar Fudhail bin Iyadh berkata, ‘Tidak ada kematian seorang pun yang lebih memukul diriku melebihi kematian Amirul-Mukminin Harun Al Rasyid. Sungguh saya ingin seandainya Allah menambah umurnya dengan sisa umurku.’ Ammar berkata, ‘Perkataan beliau ini terasa berat bagi kami, namun tatkala Harun telah meninggal dunia, muncullah fitnah, khalifah setelahnya yaitu Al-Makmun memaksa orang-orang untuk meyakini bahwa Alquran makhluk. Saat itu kami mengatakan, ‘Syaikh (Fudhail) lebih mengetahui tentang apa yang beliau katakan’.”

Beliau sangat keras terhadap orang yang menyimpang dari sunah dan berusaha menentangnya. Pada suatu ketika Abu Mu’awiyah menceritakan kepada beliau sebuah hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi Adam dan Musa berdebat, maka paman Khalifah Harun Al Rasyid berkata, “Wahai Abu Mu’awiyyah, kapan keduanya bertemu?” Maka Khalifah sangat marah seraya berkata, “Apakah engkau menentang hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ambilkan sebilah pedang dan tempat pemotongan kepala.” Maka segeralah yang beliau minta itu didatangkan. Orang-orang yang hadir saat itu pun memintakan maaf untuk paman beliau tersebut. Berkatalah Harun Al Rasyid, “Ini adalah perbuatan zindiq.” Akhirnya beliau memerintahkan untuk memenjarakannya. Sebagian orang juga pernah bercerita, “Saya masuk menemui Harun Al Rasyid dan saat itu ada seseorang yang barusan dipenggal kepalanya dan algojo sedang membersihkan pedangnya. Maka Haru Al Rasyid berkata, ‘Saya membunuhnya karena dia berkata bahwa Alquran itu makhluk’.”

Beliau sangat mencintai nasihat yang mengingatkan diri pada hari akhirat. Al-Ashma’i berkata, “Pada satu hari Harun Al Rasyid memanggilku. Saat itu dia menghiasi istana, membuat hidangan yang banyak dan lezat, lalu dia memanggil Abu Al-Atahiyyah, lalu Harun berkata kepadanya, “Sifatilah kenikmatan dan kesenangan hidup kami.” Maka Abu Al Athiyah menyenandungkan sebuah syair:

Hiduplah semaumu

Di bawah naungan istana nan megahmu

Engkau berusaha mendapatkan apa yang engkau senangi

Baik pada waktu sore maupun pagi

Namun, apabila jiwa tersengal-sengal

Karena sempitnya pernapasan dalam dada

Saat itu berulah engkau tau

Bahwa selama ini engkau sedang tertipu

Harun Al Rasyid pun langsung menangis sejadi-jadinya, sehingga Fadhi bin Yahya berkata, “Amirul-Mukminin memanggilmu agar engkau bisa membuatnya senang, tetapi engkau malah membuatnya susah.” Maka Harun Al Rasyid berkata, “Biarkan dia, dia melihat kita sedang kebutaan dan dia tidak ingin kita semakin buta.”

Suatu saat lainnya, Harun Al Rasyid memanggil Abu Al Atahiyyah lalu berkata, “Nasihatilah saya dengan sebuah bait syair.” Maka Abu Al Athiyah berkata,

Jangan engkau merasa aman dari kematian sekejap mata pun

Meski engkau mempunyai para penjaga dan para pasukan

Ketahuilah bahwa panah kematian pasti tepat sasaran

Meski bagi yang membentengi diri darinya

Engkau ingin selamat namun tidak mau mengikuti jalannya

Bukankan sebuah bahtera tidak akan mungkin berlayar di jalan raya

Begitu mendengarnya, Harun Al Rasyid pun langsung jatuh pingsan.

Inilah sekilas tentang kehidupan Khalifah Harun Al Rasyid meskipun kita mengakui bahwa sebagai manusia biasa beliau pun banyak memiliki cacat dan kemaksiatan. Namun keutamaan dan kebaikan beliau jauh melebihi cacat yang beliau kerjakan. Sampai-sampai Syaikh Abu Syauqi Khalil menulis buku berjudul Harun Al Rasyid Amirul-Khulafa wa Ajallu Mulukid-Dunya (Harun Al Rasyid Pemimpin Para Khalifah dan Raja Dunia Teragung) yang mana buku ini banyak dipuji oleh Syaikh Masyhur Salman dalam beberapa tempat di dalam buku Kutubun Hadzdzara minha Ulama.

(Lihat tentang kehidupan Harun Al Rasyid dengan agak terperinci pada Al-Bidayah wa Al-Nihayah, 14:27-48, Siyar A’lamin Nubala, 8:163-188)

Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 5 Tahun Ke-8 1429H/2008 M

Artikel www.KisahMuslim.com
READ MORE - SIAPAKAH SEBENARNYA ABU NUWAS (ABU NAWAS)?

NASEHAT INDAH UNTUK WANITA


WASIAT SEORANG IBU KEPADA ANAK PEREMPUANNYA

Anjuran Berwasiat Kepada Calon Isteri
Anas mengatakan bahwasanya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mempersembahkan (menikahkan) anak perempuan kepada calon suaminya, mereka memerintahkan kepadanya untuk berkhidmat kepada suami dan senantiasa menjaga hak suami.

Pesan Bapak Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan
Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya, seraya berkata, “Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu adalah kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, karena keluh kesah menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata karena itu adalah perhiasan yang paling indah dan wewangian yang paling harum”.

Pesan Ibu Kepada Anak Perempuannya
Diriwayatkan bahwa Asma binti Kharijah Al-Farzari berpesan kepada anak perempuannya disaat pernikahannya, “Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh karena itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan menjadi langit untukmu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia akan menjadi hamba untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena niscaya dia akan membencimu dan janganlah menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Jika dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu, dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik. [1]

Pesan Amamah binti Harits Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan.
Amamah bin Harits berpesan kepda anak perempuannya tatkala membawanya kepada calon suaminya, “Wahai anak perempuanku! Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku! Jagalah sepuluh perkara ini.

Pertama dan kedua : Perlakuan dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah melalui perhatian yang baik dan ta’at, karena pada qan’aah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat : Buatlah janji dihadapannya dan beritrospeksilah dihadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

Kelima dan keenam : Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur menjengkelkan.

Ketujuh dan kedelapan : Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh : Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya. [2]

Bahwasanya keagungan baginya yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Tatkala Ibnu Al-Ahwash membawa anak perempuannya kepada amirul mukminin Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, dan orang tuanya telah memberinya nasihat, Ustman berkata, “Pondasi mana saja, bahwasanya engkau mengutamakan perempuan dari suku Quraisy, karena mereka adalah perempuan yang paling pandai memakai wewangian daripada engkau. Oleh karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

Ummu Mu’ashirah menasihati anak perempuannya dengan nasihat sebagai berikut (sungguh aku membuatnya tersenyum bercampur sedih): Wahai anakku.. engkau menerima untuk menempuh hidup baru… kehidupan yang mana ibu dan bapakmu tidak mempunyai tempat di dalamnya, atau salah seorang dari saudaramu. Dalam kehidupan tersebut engkau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak menginginkan seorangpun ikut campur dalam urusanmu, bahkan juga daging darahmu. Jadilah istri untuknya wahai anakku, dan jadilah ibu untuknya. Kemudian jadikanlah ia merasakan bahwa engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya, dan segala-galanya di dunia.

Ingatlah selalu bahwasanaya laki-laki anak-anak atau dewasa memiliki kata-kata manis yang lebih sedikit, yang dapat membahagiankannya. Janganlah engkau membuatnya berperasaan bahwa dia menikahimu menyebabkanmu merasa jauh dari keluarga dan sanak kerabatmu. Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga karena dirimu. Tetapi perbedaan antara dia dan kamu adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duaniamu yang baru.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, dimana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan berumu bersamanya.

Seorang perempuan berwasiat kepada anak perempuannya, seraya berkata, “Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu dapat melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu sehingga menjadikanmu selalu cantik, dicintai, serta dimuliakan di sisi suamimu. Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan setiap orang yang melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan ketentraman dan kesenangan jiwa”.

[Disalin dari buku Risalah Ilal Arusain wa Fatawa Az-Zawaz wa Muasyaratu An-Nisaa, Edisi Indonesia Petunjuk Praktis dan Fatwa Pernikahan, Penulis Abu Abdurrahman Ash-Shahibi,Penerbit Najla Press]
_________
Foot Note
[1]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.79
[2]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.80
READ MORE - NASEHAT INDAH UNTUK WANITA

Pemikiran Berbahaya yang Dimunculkan Ja’d bin Dirham


Siapakah Ja’d bin Dirham?

Tidak banyak referensi yang mengungkap seluk-beluk Ja’d bin Dirham. Kitab-kitab yang ada tidak menyinggungnya, kecuali sebatas yang berkaitan dengan bid’ah yang dilahirkannya.
Rujukan yang ada menyatakan, ia seorang maula (bukan Arab asli, mantan budak). As Sam’ani, Az Zabidi dan Ibnul Atsir secara jelas menyatakan bahwa ia adalah maula Suwaid bin Ghafiah bin Ausajah Al Ju’fi.

Ibnu Katsir berpendapat, asal usul Ja’d bin Dirham ialah dari Khurasam, Persia. Kelahirannya tidak diketahui. Kalau bukan karena bid’ah yang diusungnya, sudah tentu ia tidak menjadi populer. Sejak kecil, tokoh kesesatan ini tumbuh dalam komunitas yang buruk, yaitu Jazirah Furat. Dalam hal ini, Al Harawi mengatakan: “Adapun Ja’d, ia orang Jazari tulen. Penisbatan ini mengacu kepada daerah nama Jazirah, yang terletak antara sungai Dajlah (Trigis) dan Furat (Eufrat), tepatnya di distrik Harran.” Selengkapnya tentang Ja’d bin Dirham di artikel ini.

Beberapa Pemikiran Berbahaya yang Dimunculkan Ja’d bin Dirham

1. Pengingkaran terhadap sang Pencipta.
Sikap ini mempunyai konsekuensi pengingkaran dzat Allah. Menurut pandangannya, Allah hanyalah khayalan belaka, tidak ada hakikatnya dalam realita. Oleh karena itu, sedikitpun Ja’d tidak menyifati Allah dengan sifat apapun. Ja’d orang pertama yang melontarkannya, mendahului Jahm bin Shafwan. Hanya saja, Jahm bin Shafwan ini lebih agresif dalam menjajakan keyakinannya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama aqidah Jahmiyah ketimbang aqidah Ja’diyah.

2. Pengingkaran bahwa Allah berbicara (sifat al kalam).
Menurut Ibnu Taimiyah, pengingkaran ini sebenarnya merupakan pengingkaran kepada hakikat risalah yang dibawa Nabi. Guru-guru Ja’d yang berasal dari kalangan Shabiah, filosof yang tidak meyakini keberadaan dzat tuhan, apalagi hanya “sekedar” sifat kalamnya. Demikian anggapan sesat Ja’d tentang sifat al kalam.

3. Allah tidak mencintai siapapun (pengingkaran sifat mahabbah).
Dengan pernyataan ini, Ja’d mengingkari kalau Ibrahim adalah Khalilullah (kekasih Allah).

4. Penentangan nash dengan logika akal.
Ja’d adalah aktor pertama yang menelurkan bid’ah ini. Dari sini mulailah pintu keburukan buat umat terbuka. Ibnu Taimiyah menyatakan: Ketika muncul kelompok Jahmiyah, mereka itulah kelompok orang yang menentang nash dengan akal mereka. Adapun tokoh pertamanya adalah Ja’d bin Dirham.

5. Pengingkaran terhadap takdir.
Al Baghdadi dalam Al Farqu Bainal Firaq (h. 18-19) menyebutnya masuk kelompok Qadariyah. Al Baghdadi mengatakan: Kemudian muncullah di akhir generasi sahabat pertentangan tentang takdir dari kelompok Qadariyah, yaitu dari Ma’bad Al Juhani, Ghailan Ad Dimasyqi dan Ja’d bin Dirham.
Komentar Ulama Tentang Ja’d bin Dirham
Al Lalikai menyatakan, “Orang yang pertama kali mengatakan Al-Quran makhluk adalah Ja’d bin Dirham.”

Komentar senada juga diungkapkan Ibnu Katsir dan Ibnu Asakir.
Ibnul Atsir mengatakan, “Kabarnya Ja’d termasuk zindiq.”
Sedangkan Adz Dzahabi menjelaskan, “Ja’d bin Dirham adalah orang sesat. Khalid menyembelihnya. Ia (Ja’d) mengingkari kalau Ibrahim adalah Khalilullah.”

Adapun As Suyuthi menjelaskan, “Orang yang pertama kali melontarkan ungkapan keji dalam aqidah adalah Ja’d bin Dirham.”

Al Harawi berkata, “Adapun fitnah pengingkaran Kalamullah, (maka) orang yang pertama kali menghidupkan adalah Ja’d bin Dirham. Ketika orang ini muncul, (Ibnu Syihab) Az Zhuri berkomentar: ‘Ia bukan termasuk umat Muhammad’.”

***

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 3 Tahun IX 1426 H/2005M
www.yufidia.com
READ MORE - Pemikiran Berbahaya yang Dimunculkan Ja’d bin Dirham

Lebih Utama Manakah; Ilmu atau Harta?



Ilmu memiliki kelebihan atas harta dari beberapa sisi, di antaranya:
  1. Ilmu adalah warisan para nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan orang kaya.
  2. Ilmu menjaga pemilikinya, sementara pemilik harta harus menjaga hartanya.
  3. Harta berkurang karena dibelanjakan, sementara ilmu semakin bertambah karena diberikan.
  4. Pemilik harta akan berpisah dengan hartanya bila dia mati, sementara ilmu akan masuk bersama pemiliknya ke liang kubur.
  5. Ilmu adalah hakim atas harta, dan harta bukanlah hakim atas ilmu.
  6. Harta dapat dimiliki oleh orang mukmin dan orang kafir, orang baik dan orang jahat, sementara ilmu yang bermanfaat hanya dimiliki oleh orang mukmin.
  7. Ilmu dibutuhkan oleh para raja dan orang-orang di sekitarnya, sementara harta hanyalah dibutuhkan oleh orang-orang miskin dan orang yang tak berpunya.
  8. Jiwa akan mulia dan bersih dengan mengumpulkan ilmu dan meraihnya, dan itu merupakan kesempurnaan dan kemuliaan jiwa. Adapun harta, tidak membersihkan dan tidak menyempurnakannya. Serta, tidak menambah sifat kesempurnaannya. Bahkan, jiwa akan semakin merasa kekurangan, kikir, dan bakhil, dengan mengumpulkan harta dan berkeinginan terhadapnya. Keinginan terhadap ilmu adalah hakikat kesempurnaan dan keinginan terhadap harta adalah hakikat kekurangan.
  9. Harta akan mendorongnya kepada perbuatan aniaya, membanggakan diri, dan sombong. Adapun ilmu, akan mendorongnya untuk tawadhu dan melaksanakan ibadah
  10. Ilmu akan menuntunnya kepada kebahagiaan, yang untuk itulah ia diciptakan. Adapun harta, justru menjadi penghalangnya.
  11. Kaya ilmu lebih mulia daripada kaya harta.



Sumber:
  1. Pesan-Pesan Pemikat Cinta, Menata Hati Menyemai Cinta Bersama Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, Manshur bin Abdul Aziz al-Ujayyan, Daar An-Naba’, Maret 2009.
  2. (Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi)
Disebarkan: www.yufidia.com
READ MORE - Lebih Utama Manakah; Ilmu atau Harta?

Mendidik Anak Secara Islam




بسم الله الرحمن الرحيم
Mendidik Anak Secara Islam

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله اما بعد:

Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang tua mendambakan anaknya menjadi anak yang saleh, anak yang berbakti kepada orang tua selama hidupnya dan mendoakannya setelah wafat. Tidak ada cara lain untuk menggapai ke arahnya kecuali dengan kembali kepada kitab Allah dan sunah Rasul-Nya dengan mempraktikkannya dalam keseharian, mendidik anak-anak kita di atasnya, menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di hati mereka dan membiasakan mereka tumbuh di atas ajaran Islam.

Usaha mendidik anak agar menjadi saleh memang tidak gampang, banyak liku-liku yang harus dihadapi oleh orang tua untuk menuju ke arahnya, jika kita melihat ajaran Islam akan nampak jelas rambu-rambu yang selayaknya dilalui oleh orang tua yang menginginkan anaknya menjadi saleh. Rambu-rambu tersebut tidak dimulai ketika anak sudah lahir, bahkan sebelum anak lahir dan sebelum seseorang memasuki mahligai rumah tangga.
Berikut ini di antara rambu-rambu yang perlu dilalui seseorang yang mendambakan anaknya menjadi saleh:

1. Memilih Istri
Selayaknya seseorang memilih istri yang mengenal kewajiban terhadap Tuhannya, kewajiban terhadap suaminya dan kewajiban terhadap anaknya, inilah istri yang salehah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

تُنْكَحُ اَلْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا , وَلِحَسَبِهَا , وَلِجَمَالِهَا , وَلِدِينِهَا , فَاظْفَرْ بِذَاتِ اَلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu dinikahi (orang) karena empat hal; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya, pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu selamat.” (HR. Bukhari-Muslim)

Istri sebagai ibu bagi anak sangat berpengaruh sekali terhadap pribadi anaknya, jika istri seorang yang salehah, maka berpeluang besar anaknya menjadi anak yang saleh. Sebaliknya jika istri tidak baik agamanya, maka dikhawatirkan anaknya akan terbawa.

2. Doa
Doa memiliki peranan penting dalam mendidik anak menjadi saleh, betapa tidak dengan doa sesuatu yang diharapkannya bisa terpenuhi, banyak bukti yang menunjukkan demikian, tidakkah Anda memperhatikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika ia berdoa,

“Yaa Rabbi, berikanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Maka Allah mengabulkannya,

Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS. Ash Shaaffaat: 101)

3. Membaca Dzikr ketika Hendak Jima’.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ : بِسْمِ اَللَّهِ . اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا اَلشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا ; فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ , لَمْ يَضُرَّهُ اَلشَّيْطَانُ أَبَدًا”.
“Kalau sekiranya salah seorang di antara mereka ketika hendak mendatangi istrinya mengucapkan, “Bismillah…dst (Artinya: Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugrahkan kepada kami), Sesungguhnya jika ditakdirkan mendapatkan anak, niscaya setan tidak akan dapat membahayakannya selamanya.” (HR. Bukhari-Muslim)

4. Memenuhi Hak Anak Ketika Lahirnya
Hak-hak anak tersebut di antaranya adalah:

1. Men-tahnik anak yang baru lahir

Dianjurkan men-tahnik anak yang baru lahir dan mendoakan keberkahan untuknya sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tahnik maksudnya mengunyah kurma, lalu mengoleskannya ke langit-langit mulut si bayi dengan jari, kalau tidak ada kurma bisa dengan makananan manis lainnya. Dan dianjurkan yang mengolesnya adalah orang yang saleh.

Abu Musa berkata, “Aku dikaruniakan seorang anak, lalu aku membawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau menamainya Ibrahim, men-tahnik-nya dengan kurma, mendoakan keberkahan untuknya lalu menyerahkan kepadaku. Anak itu adalah anak paling tua Abu Musa.” (HR. Bukhari)
2. Memilih nama yang baik untuk anak
3. Mencukur rambutnya pada hari ketujuh

Setelah dicukur rambutnya lalu ditimbang dan disedekahkan dalam bentuk perak. Dalam mencukur dilarang mencukurnya dengan model qaza’ yaitu mencukur sebagian rambut kepala dan meninggalkan sebagiannya yang lain.
4. Mengaqiqahkan

Untuk anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing (sebaiknya yang sepadan umurnya), sedangkan untuk anak perempuan seekor kambing. Hal ini dilakukan pada hari ketujuhnya.
5. Mengkhitannya

Khitan berlaku baik bagi laki-laki maupun perempuan pada hari ketujuh atau setelahnya. Ibnul Qayyim pernah berkata, “Tidak boleh bagi wali membiarkan anaknya tidak dikhitan sampai ia baligh.”
6. Mendoakannya

Dianjurkan mendoakan keberkahan untuk anak sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga dianjurkan mendoakan perlindungan buatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan perlindungan untuk al-Hasan dan al-Husein dengan mengucapkan,

اُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
“Aku meminta perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untukmu, dari setiap setan dan burung hantu serta dari pengaruh mata yang jahat.” (HR. Bukhari)
7. Menyusuinya

Lebih utama dilakukan selama dua tahun (lihat Al Baqarah: 233).
8. Memberikan makanan yang halal


5. Mendidiknya di Atas Pendidikan Islam.
Ini adalah hak anak yang paling besar, yang seharusnya dipenuhi oleh seorang ayah yaitu mengajarkan anak Alquran dan sunah agar dia mengetahui kewajibannya, tujuan hidupnya dan bisa beribadah dengan benar, AllahSubhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6)

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Ajarilah ilmu (agama) kepada mereka dan adab.”

Contoh pendidikan Islam adalah dengan mengajarkan anak seperti yang diajarkan Luqman kepada anaknya berikut ini,

Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar” (13) Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua orang orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (14) Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (15)

Luqman melanjutkan kata-katanya lagi:

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (16) Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan .(17) Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (18) (QS. Luqman: 12-18).

6. Orang Tua Memiliki Akhlak yang Mulia
Seorang anak biasanya mengikuti prilaku orang tua, maka sudah seharusnya orang tua memiliki akhlak yang mulia, janganlah ia tampakkan kepada anaknya akhlak yang buruk karena anak akan menirunya. Hendaknya ia ingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barang siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang ikut melakukannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barang siapa yang mencontohkan perbuatan yang buruk dalam Islam, maka dia akan memikul dosanya dan dosa orang-orang yang ikut mengerjakannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa mereka.” (HR. Muslim)

7. Mengajarkan Dasar-Dasar Islam
Yakni dengan mengenalkan tauhid kepada anak, mengenalkan pokok aqidah islamiyyah (dasar-dasar aqidah Islam) seperti rukun iman yang enam, juga mengenalkan maknanya Demikian juga mengajarkan rukun-rukun Islam kepada anak seperti makna syahadat, tentang shalat, zakat, puasa, dan hajji.

8. Menanamkan Rasa Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya
Cara menanamkan rasa cinta kepada Allah adalah dengan mengajak anak memperhatikan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya, misalnya ketika ayah dengan anaknya sedang menikmati makanan, lalu ayah bertanya, “Nak, tahukah kamu siapa yang memberikan makanan ini?” Anak lalu berkata, “Siapa, yah?” Ayah menjawab, “Allah, Dialah yang memberikan rezeki kepada kita dan kepada semua manusia.”

Dengan cara seperti ini Insya Allah rasa cinta kepada Allah akan tertancap di hati anak.

Sedangkan cara menanamkan rasa cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menceritakan kepada anak sirah atau sejarah hidup Beliau, akhlak Beliau dsb.

9. Menanamkan Rasa Muraaqabah (pengawasan Allah) di Hati Anak
Lihat surat Luqman ayat 16.

10. Membiasakan Anak Mendirikan Shalat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوْا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي اْلمَضَاجِعِ
“Suruhlah anak-anakmu shalat ketika berumur tujuh tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya setelah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (shahih, HR. Ahmad dan Abu Dawud)

11. Melatih Anak Berpuasa di Bulan Ramadhan
Rubayyi’ binti Mu’awwidz pernah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim seseorang pada pagi hari Asyura (10 Muharram) ke desa-desa Anshar (untuk menyerukan): “Barang siapa yang sudah berniat puasa maka sempurnakanlah puasanya dan barangsiapa yang pada pagi harinya tidak berniat puasa maka hendaknya ia berpuasa”, maka setelah itu kami berpuasa dan menyuruh anak-anak kami yang masih kecil berpuasa insya Allah, kami pergi ke masjid setelah membuatkan mainan untuk mereka dari bulu domba, ketika salah seorang di antara mereka menangis karena meminta makan, kami berikan mainan itu kepadanya menjelang berbuka.” (HR. Muslim)

12. Mengajarkan Anak Meminta Izin Ketika Masuk ke Kamar Orang Tua
Islam menyuruh para orang tua mengajarkan anak meminta izin jika masuk ke kamar orang tua, khususnya pada tiga waktu; sebelum shalat Subuh, pada siang hari (pada saat tidur siang) dan setelah shalat Isya, lihat An Nuur: 58.

13. Mencarikan Teman atau Lingkungan yang Baik Bagi Anak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seseorang mengikuti agama kawannya, maka hendaknya salah seorang di antara kamu melihat siapa yang menjadi kawannya.” (HR. Abu dawud dan Tirmizi, Shahihul Jaami’ no. 3545)

14. Membiasakan Adab-Adab Islam Kepada Anak
Misalnya mengajarkan adab makan, adab mengucapkan salam, adab bersin, adab di majlis, adab menguap, adab ketika tidur, adab berbicara, adab buang air dsb.

15. Mencegah Anak Berprilaku Seperti Wanita atau Anak Wanita Berprilaku Seperti Anak Laki-Laki.

16. Bersikap Adil Terhadap Anak-Anaknya

Contoh tidak bersikap adil terhadap anak-anak adalah seorang ayah melebihkan sebagian anak dalam pemberian dengan meninggalkan yang lain, perbuatan ini hukumnya adalah haram kecuali jika maksudnya membantu karena anak tersebut tidak mampu dengan syarat orang tua memiliki niat di hatinya jika anak yang lain tidak mampu juga maka akan diberikan hal yang sama. Terhadap pemberian yang tidak adil Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلَيْسَ يَسُرُّكَ اَنْ يَكُوْنُوْا اِلَيْكَ فىِ الْبِرِّ سَوَاءً
“Bukankah kamu suka, jika mereka sama-sama berbakti kepadamu?” (HR. Ahmad dan Muslim)

17. Tanggap Terhadap Prilaku Buruk yang Terkadang Muncul Pada Anak
Yakni seorang bapak hendaknya tanggap dan tidak membiarkan prilaku buruk muncul pada anak. Jika seorang bapak tidak tanggap terhadap prilaku buruk pada anak maka anak akan terbiasa berprilaku buruk, dan jika sudah seperti ini sangat sulit diarahkan.

Oleh: Marwan bin Musa

Artikel www.Yufidia.com

Ahammul maraaji’:
  • Ath Thariiq ilal waladish shaaalih (Wahid Abdus Salaam Baaliy)
  • Kaifa nurabbiy aulaadaanaa tarbiyah shaalihan (M. Hasan Ruqaith)
  • dll.
READ MORE - Mendidik Anak Secara Islam

Tiga Macam Rumah



Pertama, rumah milik raja. Di dalamnya terdapat harta benda, perbendaharaan, dan perhiasan.

Kedua, rumah milik hamba. Di dalamnya terdapat harta benda, perbendaharaan, dan perhiasan milik si hamba, yang tentunya tidak sama dengan milik raja.

Ketiga, rumah kosong melompong yang tak ada isinya.

Lalu, datanglah pencuri yang ingin mencuri di salah satu rumah.

Kira-kira, rumah manakah yang akan dimasukinya?

Jika engkau katakan rumah kosong, maka mustahil, karena rumah kosong tidak berisi harta benda apa pun untuk dicuri. Oleh karena itu, pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas, tentang orang-orang Yahudi yang mengklaim bahwa mereka tidak diusik perasaan was-was dalam ibadah mereka. Maka, Ibnu Abbas mengatakan, “Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang rusak?”

Jika engkau katakan rumah milik raja, maka hal itu sepertinya mustahil dan tak mungkin, karena rumah raja dijaga oleh para penjaga dan serdadu, sehingga pencuri tidak bisa mendekatinya. Bagaimana tidak, penjaganya adalah raja itu sendiri!

Bagaimana mungkin si pencuri bisa mendekatinya, sementara di sekelilingnya bertebaran para penjaga dan serdadu.

Tidak tersisa, kecuali rumah milik hamba. Itulah rumah yang paling rentan didatangi oleh pencuri.

Orang bijak tentu dapat melihat permisalan ini dengan cermat. Mengibaratkannya dengan hati manusia, karena keadaan hati mirip dengan kondisi ketiga rumah tersebut.

Hati yang kosong dari seluruh kebaikan, itulah hati orang kafir dan munafik, dan itulah rumah setan. Setan telah menjaganya untuk dirinya dan ia menempatinya. Setan menjadikannya sebagai tempat tinggal dan tempat menetap. Lantas, apa yang harus ia curi darinya? Di dalamnya tersimpan harta benda, perbendaharaan, dan was-was setan.

Adapun hati yang dipenuhi dengan penghormatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, pengagungan, cinta, muraqabah (pendekatan diri pada Allah -ed), dan perasaan malu terhadap-Nya. Setan manakah yang berani mendekati hati seperti ini? Jika ia ingin mencuri sesuatu darinya, apa yang harus ia curi?

Hati yang berisi tauhid kepada Allah, ma’rifah, mahabbah, iman, serta pembenaran terhadap janji-Nya. Selain itu, juga berisi seruan hawa nafsu, akhlak tercela, serta dorongan kepada syahwat dan tabiat buruk.

Hati yang berisi dua perkara ini, kadangkala condong kepada seruan iman, ma’rifah, mahabbah kepada Allah, dan kehendak Allah semata. Namun, kadang kala hati jenis ini condong kepada ajakan setan, hawa nafsu, dan tabiat buruk.

Hati inilah yang diminati oleh setan. Setan berusaha untuk menempati dan menguasainya, dan Allah memberikan pertolongan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِنْدِ اللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. Ali Imran: 126)

Setan tidak akan bisa menguasainya, kecuali dengan senjata yang dimilikinya. Setan berusaha masuk ke dalamnya dan ia mendapati bahwa senjatanya berada di dalamnya. Lalu, ia mengambil senjata itu dan memberikan perlawanan. Sesungguhnya, senjata-senjata setan itu adalah syahwat, syubhat, khayalan, dan angan-angan kosong.

Semua itu ada dalam hati. Setan masuk ke dalamnya dan menemukan senjata itu di dalamnya. Maka, setan pun merampas senjata tersebut dan memberikan penyerangan terhadap hati. Apabila hamba yang memiliki hati tersebut punya persiapan yang matang, berupa iman untuk menghadapi serangan setan, bahkan persiapan yang lebih, maka ia dapat mengatasi setan tersebut.

Wa la haula wa la quwwata illa billah (tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah).

Pesan-Pesan Pemikat Cinta, Menata Hati Menyemai Cinta Bersama Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, Manshur bin Abdul Aziz al-Ujayyan, Daar An-Naba`, Maret 2009.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi)

***

Artikel yufidia.com
READ MORE - Tiga Macam Rumah

Anak yang berbakti,,



Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya...., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta..., hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya...

Karena…

(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya..., sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua.

(2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta..., ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan...

(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?

(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya...tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun...

Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu…. Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.

Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua.

Oleh: Ustadz Firanda Andirja, M.A.
READ MORE - Anak yang berbakti,,

Alquran Melunakkan Hati Yang Keras



Kisah berikut ini adalah kisah tentang seseorang yang memiliki hati yang keras, mudah membunuh, zalim, dan sifat-sifat kejam lainnya, kisah ini adalah kisah Hajjaj bin Yusuf.

Hajjaj adalah gubernur Irak di zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, sebelumnya ia adalah gubernur Madinah. Hajjaj dikenal sebagai pemimpin zalim dan sangat mudah menumpahkan darah rakyatnya. Imam adz-Dzahabi mengatakan, “Dia orang yang sangat zalim, tiran, amibisius, perfeksionis, nista, dan kejam. Di sisi lain ia adalah seorang yang pemberani, ahli strategi dan rekayasa, fasih dan pandai bernegosiasi, serta sangat menghormati Alquran.” Ada yang mengatakan, Hajjaj telah membunuh kurang lebih 3000 jiwa di antara nyawa yang ia hilangkan adalah seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Zubair dan seorang tabi’in Said bin Jubair. Hajjaj wafat pada tahun 95 H.

Dengan rekam jejak yang kelam itu, sangat jarang kita mendengarkan kisah yang baik dari perjalanan kehidupan Hajjaj bin Yusuf. Namun siapa sangka, ternyata ia sangat mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Alquran.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, “Hajjaj pernah berkhutbah di hadapan kami, dia berkata, ‘Wahai anak Adam, sekarang kamu dapat makan, tapi besok kamu akan dimakan’. Kemudian dia membaca ayat, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kemudian ia menangis hingga air matanya membasahi surbannya. Inilah bahasa Alquran, inilah kalamullah, yang mampu menghancurkan gunung yang kokoh, karena takut dan tunduk kepada Allah.

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Seandainya Alquran ini Kami turunkan kepada gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. (QS. Al-Hasyr: 21)

Tafsir ayat:

Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebuah kabar umum yang universal dan berlaku bagi seluruh makhluk, bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dalam firman-Nya disebutkan,

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فانٍ . وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar- Rahman: 26-27)

Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, yang akan abadi dan kekal, dan Dia adalah Maha Akhir sebagaimana Dia yang Maha Awal.

Ayat ini mengandung peringatan bagi seluruh manusia, karena manusia pasti akan mati. Apabila batas waktunya berakhir, maka manusia akan dikembalikan kepada Rabb mereka dengan amalan mereka masing-masing. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kiamat dan akan membalas seluruh amal perbuatan semua makhluk. Oleh karena itu, setelah berfirman bahwa semua manusia akan mati, Allah lanjutklan firman-Nya

وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185)

Pelajaran dari kisah:
  1. Orang yang dikenal sangat zalim pun masih menangis mendengar ayat-ayat tentang kematian, bagaimana dengan kita? Apakah hati kita merasa takut dan bergetar ketika mendengar ayat-ayat tentang kematian? Atukah hati kita lebih keras dari pada gunung?
  2. Tidak boleh men-cap seseorang yang senantiasa berbuat keburukan sebagai penghuni neraka. Sebagaimana Hajjaj -kita serahkan kepada Allah keadaannya di akhirat-, dikatakan Hajjaj pernah berdoa di akhir hayatnya “Ya Allah ampunilah aku, walaupun manusia menyangka Engkau tidak mengampuniku.”
  3. Allah menjadikan Alquran itu mudah untuk ditadabburi bagi orang-orang yang ingin merenungkan kandungan maknanya.
  4. Seseorang hendaknya mengamalkan apa yang ia ketahui dan ia dakwahkan. Sebagaimana Hajjaj yang mengetahui bahwa Allah akan menghisab amalan manusia, hendaknya ia berbuat kebaikan sebagai realisasi dari apa yang ia ketahui dan yakini.
  5. Hajjaj memang pemimpin yang zalim dan mudah membunuh, tapi dari sisi keyakinannya terhadap Alquran ia lebih baik daripada orang-orang liberal yang tampil bersahaja namun mengingkari ayat Alquran yang bertentangan dengan akal mereka dan menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Sumber: Tangisan Salaf Ketika Membaca dan Mendengarkan Alquran oleh Muhammad Syauman bin Ahmad ar-Ramali

Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel KisahMuslim.com
READ MORE - Alquran Melunakkan Hati Yang Keras

Postingan Populer

 

Fans Page Kami

TOKO ANIS - BALAMOA TEGAL

TOKO ANIS - BALAMOA TEGAL
TOKO SEPATU & SERVER PULSA

Tutorial Internet Marketing

Diberdayakan oleh Blogger.

IKLAN