PRODUK KAMI

Minat : Luqmanul Khakim HP : 085711081674 / 089605509038 / PIN BB : 54C29D51

Diskon Menarik utk setiap Produk Kami - Klik di Sini!

10 Cara Agar Anda Tidak Mengalami Krisis Keuangan

Hasil gambar untuk bisnis muslim

Samuel Johnson pernah berkata, “Orang yang paling bahagia adalah seorang pria yang bisa menghabiskan uang dengan bijak dan dia juga bisa menghemat uang”. Menghabiskan uang dengan bijak dan menghemat uang, dua hal ini sama penting dan butuh kebijaksanaan dalam melakukannya.

Di satu sisi, kita perlu mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan kita dan disisi yang lain kita perlu “punya simpanan” untuk kebutuhan kita di masa depan.

Banyak dari kita terkadang harus menghadapi titik dalam hidup yakni saat Anda berada dalam kondisi keuangan yang mengerikan. Saldo tabungan yang minus, kehilangan pekerjaan atau Anda bisa kehilangan uang karena berjuang melawan penyakit.

Ada begitu banyak hal yang memungkinkan Anda mengalami situasi yang mengerikan, tapi yakinlah bahwa Anda bisa menghindarinya dengan perencanaan keuangan yang tepat.

Di bawah ini adalah 10 cara untuk membantu Anda memastikan agar Anda tidak perlu menghadapi krisis keuangan.

1. Invest pada tabungan yang mudah dicairkan
Carilah investasi tabungan yang mudah dicairkan seperti deposito atau emas batangankarena dua aset ini disamping bisa menjamin keamanan keuangan Anda juga mudah untuk dicairkan saat Anda mendadak membutuhkan uang.

Yang harus Anda pahami adalah untuk berhati-hati berinvestasi di saham atau investasi berisiko tinggi lainnya yang justru bisa membahayakan keuangan Anda. Anda mungkin perlu penasehat keuangan untuk membantu mengenai hal ini.

2. Jangan sepelekan semua catatan pendapatan dan pengeluaran Anda
Orang yang mengalami krisis keuangan bukan dikarenakan mereka tidak memperoleh uang yang banyak tetapi biasanya dikarenakan mereka tidak menyimpan uangnya (menabung) secara benar dan juga disebabkan pengeluaran uang yang tidak bijak (boros).

Permasalahan ini bisa diatasi dengan cara memperhatikan semua catatan penghasilan dan pengeluaran Anda. Rajin “melacak” uang masuk dan keluar akan membantu Anda mengetahui jika Anda terlalu boros dalam hal pengeluaran keuangan. Hal Ini akan memudahkan Anda menyesuaikan pengeluaran dengan penghasilan Anda.

3. Alokasikan anggaran bulanan Anda dan cobalah disiplin dengan aturan yang Anda buat
Disiplin menyiapkan anggaran keuangan Anda setiap bulannya dapat membantu Anda menyeimbangkan keuangan Anda. Siapkan anggaran bulanan yang terorganisir dengan jelas menetapkan anggaran untuk makan, bayar listrik, telpon, air, rekreasi dan sebagainya.

Tapi ingat, tidak ada gunanya membuat aturan keuangan jika Anda tidak bisa disiplin dalam menjalani setiap aturan yang Anda buat.

4. Jaga barang-barang Anda selalu dalam kondisi baik
Menjaga harta Anda dalam kondisi baik adalah cara lain yang efektif untuk menghindari krisis keuangan. Pastikan segala sesuatu yang Anda miliki misalnya mobil, peralatan rumah tangga, peralatan listrik dan alat elektronik selalu dalam kondisi baik dan terawat.

Karena biaya pemeliharaan rutin barang-barang tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan harga yang Anda bayar ketika barang-barang tersebut rusak. Investasi dalam jumlah kecil dengan menjaga harta benda Anda akan menuai manfaat yang lebih besar dalam jangka panjang dan membuat Anda lebih hemat dalam pengeluaran uang.

5. Pastikan Anda selalu sehat dan bugar
Sama seperti pemeliharaan rutin peralatan rumah tangga yang membantu Anda bisa lebih menghemat uang, ternyata menjaga tubuh Anda juga menjadi bagian yang sangat penting.

Karena ketika Anda mengabaikan kesehatan Anda dan masalah penyakit Anda telah menjadi parah, akan menyebabkan biaya berobat Anda yang akan lebih mahal.

Dengan berolah raga teratur, membiasakan hidup sehat ditambah pemeriksaan medis Anda secara rutin, maka Anda dapat menghindari kemungkinan besarnya pengeluaran keuangan yang disebabkan penyakit yang Anda derita.


6. Melunasi utang Anda tepat waktu
Saran yang terbaik adalah jangan pernah Anda berhutang! Tapi pada kenyataannya kadang kondisi keuangan Anda ditakdirkan tidak selamanya bisa menghindari utang.

Jika keuangan Anda mau sehat, perhatian pertama Anda adalah disiplin membayar semua hutang Anda. Rencanakan secara teratur untuk mengalokasikan sebagian dari anggaran bulanan Anda untuk melunasi utang.

7. Perlindungan terhadap kehilangan pekerjaan
Kehilangan pekerjaan adalah peristiwa besar yang akan membuat seseorang mengalami krisis keuangan, apalagi jika orang tersebut tidak pernah berpikir untuk menabung sebelumnya.

Menjaga diri terhadap potensi kehilangan pekerjaan adalah cara utama untuk menghindari krisis keuangan dan dapat dilakukan melalui program rutin menabung persiapan dana darurat atau bisa juga Anda menemukan sumber pendapatan alternatif selain pekerjaan utama Anda.

8. Menyimpan sebagian dari penghasilan Anda setiap bulan
Tabungan tidak boleh dianggap sebagai suatu kemewahan. Dan Anda harus menjadikannya sebagai suatu kebiasaan yang baik.

Tidak ada cara yang lebih baik untuk menyelamatkan diri Anda dari krisis keuangan kecuali Anda disiplin secara rutin menyisihkan sejumlah uang dari penghasilan Anda setiap bulan untuk ditabung.

Jika Anda tidak memiliki hutang, maka mengalokasikan dana Anda 20 % dari pendapatan bulanan Anda untuk menabung akan menjadi sesuatu yang baik untuk keuangan Anda.

Namun, jika Anda masih punya hutang, menyimpan uang setidaknya 10 % dari penghasilan Anda, karena Anda membutuhkan uang tunai di tangan untuk kejadian darurat yang terjadi di masa depan.

9. Cobalah untuk menghindari pemborosan uang
Kondisi keuangan Anda tidak selamanya baik seperti sekarang ini, maka cobalah untuk berhemat. Fokus untuk memotong pengeluaran yang tidak perlu. Lihat pengeluaran Anda dan cari tahu apa yang mungkin untuk dikurangi.

Contoh sederhana agar Anda bisa berhemat; menyalakan pendingin ruangan (AC) dan menyalakan mematikan lampu seperlunya, hal ini akan membantu Anda mengurangi tagihan listrik secara signifikan.

10. Menghabiskan uang secara bijak
Anda tidak akan pernah meraih kebebasan finansial, jika Anda tidak bijak dalam menghabiskan uang. Menghabiskan uang secara bijak adalah seni itu sendiri. Dan ada beberapa teknik untuk menghabiskan uang, salah satunya adalah dengan menjauhkan diri dari membeli hal-hal yang tidak Anda perlukan.

Cara yang lainnya adalah dengan cara mengalokasikan uang yang Anda miliki dengan rutin menabung dan investasi.

Ingin tahu bgm cara saya menjadikan Internet sebagai sumber income baru dan ingin belajar dengan dipandu langsung oleh Guru Internet Marketing saya?

Pilih salah satu tema internet marketing sesuai dengan kebutuhan Anda.

1. Bagaimana cara mendapatkan pasif income jutaan rupiah/bulan dg menjual jasa (hobi&keahlian) secara online - > klik di Sini!

2. Bagaimana cara berjualan produk fisik secara online dengan omset ratusan juta rupiah setiap bulan -> klik di Sini!

3. Bagaimana cara mendapatkan ribuan dollar dengan mempromosikan produk milik orang lain di clickbank -> klik di Sini!

READ MORE - 10 Cara Agar Anda Tidak Mengalami Krisis Keuangan

Solusi Bila Ibu Mertua Tidak Suka Menantu Perempuannya

Hasil gambar untuk gambar muslimah.or.id

Pertanyaan:

Ibuku tidak menyukai istriku sekembalinya kami dari luar rumah atau bila kami baru saja mengunjungi orang tua istriku. Apa yang sebaiknya kuperbuat?

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bukan sesuatu yang mendesak bila Anda tinggal bersama keluarga. Bahkan bisa jadi, ketika Anda tinggal bersama istri di luar rumah kedua orang tua Anda, itu akan jadi pilihan yang baik untuk diri Anda, istri Anda, maupun ibu Anda. Umumnya, tinggal seatap dengan keluarga – sekalipun itu kerabat sangat dekat – akan memunculkan masalah atau ganjalan dalam hidup keseharian. Sementara orang berakal – yang mampu menimbang masalah berdasar syariat dan sikap hikmah – jumlahnya begitu sedikit. Apalagi para wanita yang sering saling cemburu dan tak ingin kalah saing.

Bahkan bisa jadi, ketika Anda tinggal di luar rumah keluarga Anda, hubungan antara ibu Anda dengan istri Anda akan membaik. Kondisi saling berjauhan, terkadang bisa menjadi harta paling berharga. Karena itu, tidak selayaknya Anda merisaukannya. Betapa banyak sesuatu yang Anda anggap mengganggu, tidak menyenangkan, kemudian ternyata ada banyak kebaikannya. Bisa jadi, karena berjauhan malah akan memunculkan kerinduan dari ibu Anda; rindu dengan Anda, rindu dengan cucunya. Bahkan, perasaannya akan berubah terhadap istri Anda, ketika dia jauh dari penglihatan ibu Anda, karena jarang ketemu. Semacam ini sudah banyak terbukti.

Kemudian, jika Anda ingin menyelesaikan akar permasalahannya – yaitu Ibu Anda tidak suka terhadap istri Anda – maka Anda mesti tahu sebab-sebab hilangnya rasa suka dan cinta. Ketahui juga segala hal yang menghalangi lahirnya cinta itu. Mungkin berikut ini adalah rentetan sebab yang menjadikan ibu Anda tidak menyukai istri Anda,
  1. Keseringan kumpul dan ketemu, yang menyebabkan banyak interaksi bicara. Ujungnya, banyak salah kata.
  2. Cemburu karena kedekatan istri Anda dengan Anda, dan rasa cinta Anda kepadanya. Ini banyak terjadi. Seorang ibu cemburu karena kedekatan putranya dengan istrinya, dan melayani setiap yang diinginkan istrinya. Bahkan bisa jadi sang ibu berpikiran, “Menantuku telah mengambil anakku.”
  3. Istri Anda bersikap buruk terhadap ibu Anda. Sebagian istri tidak berusaha bersikap baik terhadap ibu mertua, tidak melayani ketika dia menginginkannya, tidak hormat, dan tidak menghargai. Alhasil, muncul duri-duri masalah antara mereka berdua.
  4. Anda meremehkan hak ibu Anda, namun Anda memperhatikan hak istri Anda. Seorang ibu tidak sanggup marah kepada Anda sebagai anaknya, lalu dia jadikan itu alasan untuk marah kepada penyebabnya, yaitu istri Anda.

Ini beberapa sebab yang mungkin memunculkan api amarah antara ibu Anda dan istri Anda. Jika sudah jelas musababnya, Anda mesti menempuh solusi dengan sikap bijak dan baik.

Kemudian kami nasihatkan Anda agar memperbaiki kesalahan tersebut dengan cara:
  1. Pindah ke tempat tinggal yang jauh dari Ibu Anda. Sampaikan kepada ibu Anda, bahwa kepindahan Anda ini demi kebaikan ibu, meskipun Anda sendiri tidak menyukainya. Agar ibu Anda tidak mengalami tekanan batin yang justru menyebabkan dirinya sakit-sakitan.
  2. Pesankan istri Anda supaya banyak memberi hadiah bagi ibu Anda, baik pakaian atau makanan, maupun “hadiah” maknawi (seperti mengucap salam dan menanyakan kondisi kesehatannya).
  3. Minta bantuan orang-orang yang baik yang disegani ibu Anda, untuk menyadarkan pola pikir ibu Anda terhadap menantunya. Terkadang nasihat orang-luar bisa memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan nasihat orang-dalam.

Kemudian yang perlu kami tekankan di sini, ketika Anda tidak tinggal bersama ibu Anda, Anda harus berusaha untuk mandiri dengan rumah sendiri, yang juga jauh dari rumah keluarga istri Anda. Ketika Anda pindah ke rumah keluarga istri Anda, akan semakin memperuncing perselisihan di antara dua kubu. Kemudian, biasanya itu juga tidak mendukung kelangsungan keluarga. Bahkan bisa jadi menyebabkan dampak buruk bagi kehidupan rumah tangga.

Jangan lupa banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia berkenan memberi hidayah menuju segala jalan yang Dia cintai dan ridhai. Berdoalah agar Allah Ta’ala menyatukan hati, memperlembut perangai, dan menunjukkan perkataan, perbuatan, dan akhlak terluhur.

Hanya Allah yang mampu memberi taufiq.

Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab (diasuh oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid)

Sumber: http://islamqa.info/ar/84036



Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.muslimah.or.id

**

أمه لا تحب زوجته فأدى ذلك إلى سكنه عند أهلها

أمي لا تحب زوجتي ، مما أدَّى إلى خروجي من المنزل والعيش مع زوجتي في منزل والديها ؛ فما العمل ؟
الحمد لله
ليس من الضروري أن تعيش مع أهلك ، بل قد يكون من الخير لك ولزوجتك ولأمك أن تعيش مع زوجتك خارج بيت والديك ، وفي الغالب فإن من يسكن مع أهله – أو حتى قريبا منهم – لا تخلو حياته من منغصات ومشكلات ، والعقلاء الذين يزِنون الأمور بميزان الشرع والحكمة قليل ، وخاصة من النساء بسبب ما يحصل بينهن من غيرة وتنافس .
وقد يكون في سكنك خارجاً عن أهلك ما يُصلح العلاقة بين أمك وزوجتك ، فالبُعد غنيمة في كثيرٍ من الأحيان ، فلا داعي للقلق ، وربَّ شيء تراه ضارّاً وتغتم له ثم يكون فيه الخير ، وقد يتولد الشوق من أمك لك ولأحفادها ببُعدك عنها ، وقد يختلف شعورها تجاه زوجتك إذا كانت بعيدة عن ناظريها ، ولا تراها إلا قليلاً ، وهذا مشاهد ومجرَّب .

وأما إذا أردت الحل لأصل المشكلة ، وهي عدم محبة أمك لزوجتك : فلا بدَّ لك من البحث عن أسباب عدم المحبة ، ومعرفة موانع وجود المحبة ، وهذه بعض الأسباب التي يمكن أن تكون أدَّت لعدم محبة أمك لزوجتك :
1. كثرة الخلطة ، وهو ما يولِّد كثرة الكلام ، ومن كثُر كلامه كثر لغطه وخطؤه .
2. الغيرة منتعلق زوجتك بك، وحبك لها ، وهذا موجود بكثرة ، فترى أم الزوج تغار من تعلق ابنها بزوجته ، وتلبيته لرغباتها ، وترى أن هذه الزوجة قد أخذت ابنها منها .
3. سوء تعامل زوجتك مع أمك ، فبعض الزوجات لا تحسن التعامل مع أم زوجها ، فلا تلبي لها طلباتها ، ولا تظهر لها الاحترام والتقدير ، فتقع بينهما من المشاكل الشيء الكثير .
4. تقصيرك في حق أمك ، وعدمه في حق زوجتك ، فلا تستطيع الأم بغض ولدها ، بل تجعل ذلك – فيما بدا لها – في السبب وهو زوجته ، فتبغضها .
فهذه بعض الأسباب التي قد تولِّد بغض أمك لزوجتك ، وإذا تبين لك أنها موجودة كلها أو بعضها : فلا بدَّ لك من معالجتها بالحكمة والحسنى .
وننصحك أن تقوم بهذه الخطوات لتوجِد المحبة بين أمك وزوجتك :
1. السكن بعيداً عن والدتك ، وأن تخبر أمك أنك فعلتَ هذا مع عدم رغبتك به من أجلها ، ومن أجل أن لا تضغط أمك على نفسها فيسبب لها آلاماً وأمراضاً .
2. أن توصي زوجتك بالإكثار من بعث الهدايا لأمك ، سواء المادية منها كاللباس والطعام وغيرهما ، أو المعنوية كبعث السلام والسؤال عن صحتها .
3. توسيط عقلاء ممن تحبهم والدتك لتغيير نظرتها تجاه زوجتك ، وهنا قد يكون لطرف خارجي من التأثير ما يفوق تأثير ولدها وزوجها عليها .

على أننا نشير هنا إلى أنه ينبغي عليك ، ما دمت تركت السكن مع أمك ، أن تجتهد في الاستقلال بمسكن خاص بك ، بعيداً عن أهل زوجتك أيضا ، فإن انتقالك إليهم ربما يعمق هوة الخلاف بين الطرفين ، ثم إنه لا يكون ـ في العادة ـ مستحبا في استقامة الحياة الزوجية ، وربما تولدت عنه آثار سلبية في العشرة بين الزوجين .

ولا تنس دعاء الله تعالى أن يهدي الجميع لما يحب ويرضى ، والدعاء بأن يؤلِّف الله تعالى بين القلوب ، وأن يصلح بالهم ، ويهديهم لأحسن الأقوال والأفعال والأخلاق .

والله الموفق

الإسلام سؤال وجواب

http://islamqa.info/ar/84036
READ MORE - Solusi Bila Ibu Mertua Tidak Suka Menantu Perempuannya

Jika Ingin Mendapatkan Keturunan yang Shalih

Hasil gambar untuk gambar muslimah.or.id

Setiap orang tentu menginginkan anak yang shalih. Kehadirannya menjadi pelengkap kebahagiaan, pelipur lara, juga sebagai perhiasan di dunia. Anak yang shalih adalah salah satu bentuk nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Ia merupakan amalan shalih bagi kedua orang tuanya semasa hidup dan setelah mereka meninggal, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إذا مات الإنسانُ انقطع عنه عملُه إلا من ثلاثةٍ : إلا من صدقةٍ جاريةٍ . أو علمٍ ينتفعُ به . أو ولدٍ صالحٍ يدعو له

“Jika seorang hamba telah meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya” (Hadits riwayat Muslim no.1631)

Mendidik generasi agar menjadi generasi yang baik itu tidaklah mudah. Ilmunya tak bisa didapat secara instan. Mempelajarinya pun tak ada batas waktu. Di antara keutamaan dan kesempurnaan syariat Islam ialah memuat segala sesuatu. Termasuk di antaranya adalah bagaimana perhatian Islam terhadap anak sebelum kedua orang tuanya melangsungkan pernikahan.

Jika yang menjadi maksud utama dalam membina sebuah rumah tangga adalah untuk mendapatkan keturunan yang shalih, maka target ini tidaklah mungkin terwujud hanya dengan pertemuan seorang lelaki dan wanita. Tetapi harus diperhatikan kaidah-kaidah dan prinsip yang di atasnya didirikan sebuah rumah tangga. Kaidah tersebut adalah perkara-perkara yang telah disyariatkan secara rinci oleh Islam, dimulai dengan memilih pendamping hidup yang memiliki kriteria tertentu agar target tersebut dapat diraih.
Oleh karena itu, seorang pemuda wajib memilih wanita yang kuat agamanya serta berakhlak mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ،

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (Hadits riwayat Muslim dari Abdullah ibnu Umar)

Beliau juga bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

Tidak diragukan lagi bahwa istri adalah pemimpin rumah, karena ia yang bertugas menjaga rumah suaminya dan ia juga yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugas tersebut. Apabila istri seorang wanita shalihah tentu ia akan membangun rumah tangga yang kokoh dan melaksanakan dengan perkara-perkara yang dapat membawa kebahagiaan bagi seisi rumah. Mendidik anak-anaknya dengan baik hingga mereka menjadi orang-orang yang berakhlak mulia, membiasakan mereka untuk melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan mereka dari kebiasaan jelek dan akhlak yang buruk.

Wanita erat hubungannya dengan baik atau buruknya sebuah generasi. Karena dari rahimnya lah keluar para penerus. Dan di bawah naungannya lah para penerus tadi mendapat pendidikan yang pertama. Muhammad Quthb berkata, “Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik selama ia pernah mendapatkan pengasuhan ibu yang baik. Sebaliknya, ibu yang rusak akhlaknya hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya.”

Abul Aswad Ad-Duaili berkata kepada anak-anaknya, “Sungguh aku telah berbuat baik kepada kalian sejak kalian masih kecil hingga kalian dewasa bahkan semenjak kalian belum dilahirkan.”

Anak-anaknya bertanya, “Bagaimana cara ayah berbuat baik kepada kami sebelum kami terlahir?”

Beliau menjawab, “Aku telah pilihkan untuk kalian ibu yang mana kalian tidak akan pernah kecewa kepadanya.”

Demikian juga dengan janin. Di samping ia memerlukan seorang ibu shalihah, memiliki agama yang kokoh sehingga mampu menjaga dan memeliharanya ketika masih berada di dalam kandungan serta dapat mewarisi sifat-sifatnya yang mulia. Janin juga memerlukan sosok seorang ayah yang shalih yang menjaga dirinya dan ibunya. Di sinilah letak tanggung jawab keluarga atau seorang wali agar tidak menikahkan anak gadisnya dengan sembarang orang. Tetapi hendaknya mereka benar-benar memperhatikan akidah dan akhlak pemuda yang datang meminang anaknya. Tiada fitnah dan kerusakan yang paling besar terhadap agama dan akhlak seseorang selain tindakan keluarga yang membiarkan menyerahkan anak gadisnya yang shalihah jatuh ketangan seorang pria yang menyimpang dari syariat Islam, tidak memiliki kehormatan dan perasaan cemburu kepada si istri. Ia memaksa istrinya untuk mengumbar aurat, bercambur baur dengan laki-laki dan menyeretnya keluar dari jalur agama dan akhlak. Ditambah lagi dengan pengaruh buruknya yang ia tularkan kepada anak-anak.

Manakala pemilihan suami maupun istri dijalankan di atas asas kemuliaan dan keshalihan, tidak diragukan lagi bahwa anak-anak yang dilahirkan akan tumbuh di atas kebaikan, kehormatan, kesucian, dan konsekuen dalam memegang ajaran agama. Apabila dalam diri seorang anak berkumpul faktor genetika yang shalih, serta faktor pendidikan yang baik maka dengan izin Allah akan menghasilkan seorang anak yang memiliki agama dan akhlak terbaik. Ketakwaannya, keistimewaannya, pergaulannya, dan akhlaknya yang mulia akan menjadi contoh bagi orang lain.

Jadi, tidak ada cara lain bagi yang ingin menapaki jenjang pernikahan kecuali harus pandai-pandai memilih pasangan hidup yang shalih. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah, jika mereka ingin mendapatkan keturunan yang shalih dan suci serta anak-anak yang beriman.



Penulis: Sheren Chamila Fahmi

Murojaah: dr. Raehanul Bahraen

Referensi:
  1. Ensiklopedi Anak, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi
  2. http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/munakahat-keluarga/istri-shalihah-keutamaan-sifatnya/
  3. http://remajaislam.com/105-kiat-kiat-menuju-pelaminan
  4. http://muslimah.or.id/fikih/menyambut-kehadiran-sang-buah-hati-1.html
  5. http://www.konsultasisyariah.com/doa-dan-tips-agar-dikaruniai-anak/
  6. http://al-atsariyyah.com/kiat-kiat-memiliki-anak-shalih.html
READ MORE - Jika Ingin Mendapatkan Keturunan yang Shalih

Surat Cinta Kepada Suamiku

Hasil gambar untuk gambar muslimah.or.id

Suamiku…
Dia adalah yang menaklukan hatiku ketika pertama memandang
Dia adalah hadiah Ar Rahman kepadaku setelah kesabaranku menanti

Betapa sering dalam sujudku bermunajat
Agar dianugerahi teman yang shalih
Teladan dalam meniti hidup
Yang menjaga rahasiaku
dan
Mengusap air mataku
S’lalu berusaha mengembalikan senyuman
Di bibirku

Dia lah suamiku
Nahkoda bahteraku
Dia adalah orang yang membangunkan di kelam malam
Dengan setiap rakaatnya… kian bertambah cintaku padanya
Dia tak kan nyenyak tidur ketika sakitku
Dia membetulkan bacaan dan hapalan Al Quranku
Bersama mempelajari hadits2 Al Mushthafa
Dan menerapkan dalam setiap muamalah

Yang memaafkan salahku
Dengan akhlak Nabi ia memperlakukanku
Dialah teman dunia dan akhiratku

Ya Allah jagalah ia dan mudahkanlah urusanya
Jauhkanlah ia dari fitnah dunia dan perhiasannya
Sibukkan dia dengan cita2 akhirat dan jadikan dia ridha kepadaku
Jasad kami fana di dunia ini.. maka jadikanlah cinta dan kasih sayang kami sepanjang masa hingga di surga

Segala puji bagiMu ya Rabb
Yang telah menganugerahkan pria ini untukku
Sungguh! Aku bersaksi kepadaMu bahwa
Kucintakan dia di jalan Mu
Jangan lah jauhkan aku dari dia
Dan jadikanlah aku bidadarinya dunia dan akhirat


Puisi ini ditulis oleh Ustadz Abu Zubair Al Hawary, Lc. dengan sudut pandang seorang istri, sebagai nasehat baik bagi para suami dan juga para istri



Artikel Muslimah.Or.Id
READ MORE - Surat Cinta Kepada Suamiku

Benarkah Istri Tidak Wajib Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga?

Hasil gambar untuk gambar muslimah.or.id

Fatwa Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili

Soal:

Apakah benar bahwasanya pekerjaan rumah seperti memasak dan mencuci dan selainnya bukan merupakan kewajiban atas seorang istri di rumah? Dan pelayanannya terhadap suaminya adalah semata-mata adalah karena perbuatan baiknya terhadap suami? Apakah seorang istri berdosa jika dia tidak mentaati suaminya jika ia menolak mengerjakan pekerjaan rumah tangganya?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawab:

Alhamdulillah, adapun yang disebutkan dalam pertanyaan, memang merupakan pendapat sebagian ahli fikih. Akan tetapi pendapat ini marjuh (lemah). Ini dikarenakan dua hal:

Pertama, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وعَاشِرُوْهُنَّ بِالمَعْرُوْف

“Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang ma’ruf” (QS An Nisaa':19)

Dan firman-Nya

وَلَهٌنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْف

“Dan hak mereka semisal kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf” (QS Al Baqoroh: 228)

Dan yang dimaksud dengan ‘urf dalam ayat-ayat ini, adalah sesuatu yang dikenal dan berlaku di kebiasaan masyarakat muslimin dan tidak bertentangan dengan syariat Allahsubhanahu wa ta’ala.

Maka wajib atas seorang istri untuk mempergauli suaminya sebagaimana yang berlaku dalam kebiasaan masyarakat selama tidak menyelisihi syariat Allah. Dan telah ada kebiasaan yang berlaku di masyarakat muslim dahulu dan sekarang bahwasanya istri melayani suaminya. Dan seorang wanita hanya dapat melayani suaminya dengan sempurna di dalam rumahnya.

Bagaimana bisa pergaulan suami istri bisa baik dan sesuai dengan ‘urf kecuali dengan pelayanan istri kepada suaminya?

Maka kedua ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan bahwasanya wajib atas seorang istri wajib memperlakukan dan mempergauli suaminya dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat tanpa meremehkan atau berlebih-lebihan dalam perkara ini.

Dan telah kami sebutkan bahwasanya kebiasaan yang ada sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini adalah seorang istri melayani suaminya.

Kedua, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para istri agar taat kepada suami mereka. Dan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini dengan sabda Beliau,

لَوْ كٌنْتٌ آمِرُأَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلِأَحَدٍ لَأَمَرْتٌ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“andaikan aku dibolehkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, sungguh aku akan memerintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada istrinyasuaminya”

Ini karena besarnya hak suami atas istrinya. Dan apabila suami memerintahkan sesuatu kepada istri dan sang istri menolaknya sehingga membuat marah sang suami, maka akan marah pula para malaikat rahmat. Maka jika suami memerintahkan kepada istri untuk melayaninya, wajib atas istri untuk menurutinya.

Ini merupakan hukum syar’i dan inilah pendapat mayoritas ulama dan inilah yang benar. Dan dikecualikan dari perkara ini satu kondisi di mana pada suatu adat kebiasaan masyarakat tertentu, yang disana biasanya istri tidak melayani para suami. Maka ini pengecualian.

Maka jika seorang wanita berasal dari suatu golongan yang dikenal dalam sebuah masyarakat bahwasanya wanita dari golongan ini disebabkan kedudukan dan kemuliaannya tidak perlu melayani suaminya, maka kasus ini keluar dari perkataan mayoritas ulama.

Lalu saya ingin berpesan, untuk setiap mereka yang berucap kepada orang-orang agar mereka paham bahwa tidak setiap yang diketahui itu disampaikan. Dan selayaknya atas mereka untuk berucap tentang hal-hal yang memperbaiki kehidupan mereka, menyebarkan kebahagiaan dalam keluarga-keluarga mereka. Karena kebahagiaan keluarga adalah suatu hal yang dicari-cari dan diidam-idamkan.

Bagaimana mungkin ada kebahagiaan antara suami dan istrinya jika sang istri mendengar dari orang yang berilmu atau nampak berilmu berkata pada dirinya “tidak wajib atas anda melayani suami Anda”. Sehingga saat sang suami minta makan (minta agar dimasakkan makanan) sang istri berkilah “Demi Allah, Syaikh/Ustadz bilang saya tidak wajib melayanimu wahai suamiku”?!?

Bagaimana mungkin terwujud rasa cinta kasih antara suami istri yang dijunjung syariat? Bagaimana terwujud pergaulan yang ma’ruf? Ini malah menyelisihi maksud-maksud syariat (maqoshid asy syari’ah).

Karena itu saudara-saudaraku, termasuk pemahaman yang baik dalam beragama, adalah tidak menyebarkan setiap yang kalian ketahui. Akan tetapi sebarkanlah sesuatu yang mewujudkan maksud-maksud syariat (maqoshid asy syari’ah). Sebagian orang -Allahul musta’an (Allah-lah tempat meminta pertolongan)– karena kedangkalan ilmunya atau kedangkalan fikihnya, mereka membaca kitab-kitab. Lalu ketika mereka menemukan sesuatu yang asing/unik mereka tampakkan dan sebarkan kepada orang-orang seraya mengatakan, “ini merupakan pendapat ulama”. Memang benar perkataan ini dikatakan oleh sebagian ulama, akan tetapi perkataan ini tidak membuahkan kebaikan di masyarakat.

Dan inilah perkara yang selalu saya ingatkan wahai saudaraku, jika seseorang hendak mengatakan sesuatu tentang agama maka wajib dia memperhatikan 3 hal yang harus dipenuhi sebelumnya:
  1. Perkataan tersebut benar. (bukan kepalsuan, pent) dan perkataan tersebut sesuai dengan dalil syariat yang valid. Dan tidak semua yang dikatakan para (sebagian) ulama itu benar dan sesuai dengan dalil.
  2. Niat dan maksud perkataan itu harus benar. Dia harus meniatkan apa yang ia katakan itu dalam rangka mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Jangan sampai ia berkata-kata (dalam masalah agama) untuk mendapatkan wanita, atau dia berkeinginan untuk mendapatkan perhatian orang lain karena dia mendatangkan sesuatu yang asing sehingga orang-orang tertarik. Haruslah niatnya karena mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Dampak dari perkataan itu benar. Sehingga perkataan tersebut membuahkan kebenaran, menyebarkan kebaikan, dan menuntun orang kepada kebaikan. Jika konsekuensi suatu perkataan itu lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya, maka tidak boleh seseorang mengucapkannya dan menyebarkannya.

Perkara ini selayaknya dijelaskan kepada semua orang.
Wahai sekalian suami dan istri. Selayaknyalah pergaulan yang ma’ruf, kebahagiaan, dan ketenangan rumah tangga menjadi orientasi/dasar kalian. Demi Allah tidaklah hati menjadi tentram sampai rumah tangga itu tentram. Dan tidak akan tentram rumah tangga sampai keluarga bersatu di bawah naungan Kitabullah, sunnah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, rasa cinta, dan pergaulan yang baik.

Dan saya memiliki dua risalah yang telah dicetak, yang pertama berjudul “asbabu sa’adatil usar” (sebab-sebab kebahagiaan keluarga), dan yang kedua berjudul “huququ azzawjayn” (hak dan kewajiban suami dan istri) yang keduanya saya tuliskan berdasarkan Alkitab dan AsSunnah. Dan saya berharap semoga dengan kedua tulisan saya memberikan kebaikan kepada keluarga kaum muslimin. Allahu a’lam

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=HqOHDqmlbho



Penerjemah: Auf Ali

Artikel Muslimah.Or.Id
READ MORE - Benarkah Istri Tidak Wajib Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga?

HANDPHONE TELAH MENGHALANGIKU DARI ALQURAN


Jujurlah dari hati kita, ketika kita akan melakukan aktvitas di pagi hari, hal apa yang diingat oleh kita pertama kali?
Sebelum tidur, disamping kita handphone atau Alquran?
Seusai sholat subuh, sebelum kita melakukan aktivitas di pagi hari untuk mendapatkan keberkahan didalamnya, apa yang kita ingat dan ambil?


Handphone kita? atau Mushaf Alquran?

Jujurlah kepada diri kita sendiri, sering kita dan bahkan mungkin selalu yang terbenak dalam hati kita adalah handphone kita, entah kita hanya mengecek pesan dari Whatsapp, atau melihat status di BBM dan mungkin cuma iseng melihat notifikasi dan pesan yang ada di facebook.
Sebentar dan mungkin tidak sampai sepuluh menit, pasti kita memegang handphone kita

Sungguh sangat berbeda sekali dengan apa yang dialami oleh Sahabat Kholid bin Walid Rodhiyallohu anhu. Kholid bin Walid Rodhiyallohu anhu lalai dalam memperbanyak amalan membaca Alquran dikarenakan ia selalu JIhad fi sabilillah melawan musuh. Padahal Jihad adalah amalan yang sangat agung. Sedangkan kita saat ini, kita dilalaikan oleh handphone dalam memperbanyak amalan membaca Alquran.

Subhanalloh, semoga kita terlindung dari fitnah handphone
READ MORE - HANDPHONE TELAH MENGHALANGIKU DARI ALQURAN

IBUNDA YANG MENGORBANKAN ANAKNYA DI JALAN ALLOH




Berikut adalah terjemahan dari ceramah Syaikh DR. Muhammad al-‘Arifi yang berjudul al-Musytaquna ilal Jannah (Para Pendamba Surga) dengan sedikit penyesuaian..

Ini adalah sebuah cerita nyata, seorang ibunda yang mengorbankan anak putranya untuk berjihad/ berperang dijalan Allah. Kisah ini sangat bermanfaat sekali, in-syaa Alloh, wAllohu A’lam Bisshowab.

••••••••••••••••••••••••••

■ Ibunda Sang Mujahid Muda ■

>> Ibnul Jauzi dalam Shifatus Shofwah (1/460) dan Ibnun Nahhas >> dalam Masyariqul ‘Asywaq, mengisahkan dari seorang yang shalih yang bernama Abu Qudamah asy-Syami.

“Suatu ketika aku berangkat bersama beberapa sahabatku untuk memerangi kaum Salibis di beberapa pos penjagaan dekat perbatasan. Dalam perjalanan itu aku melalui kota Raqqah (sebuah kota di Irak, dekat sungai Eufrat). Di sana aku membeli seekor unta yang akan kugunakan untuk membawa persenjataanku. Di samping itu aku mengajak warga kota lewat masjid-masjid, untuk ikut serta dalam jihad dan berinfak jihad fisabilillah.

Menjelang malam harinya, ada orang yang mengetuk pintu. Tatkala kubukakan, ternyata ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan gaunnya.

“Apa yang Anda inginkan?” tanyaku.

“Andakah yang bernama Abu Qudamah?” katanya balik bertanya.

“Benar,” kataku.

“Andakah yang hari ini yang mengumpulkan dana untuk membantu jihad di perbatasan?” tanyanya kembali.

“Ya, benar,” jawabku.

Maka wanita itu menyerahkan secarik kertas dan sebuah bungkusan terikat, kemudian berpaling sambil menangis.

Pada kertas itu tertulis, “Anda mengajak kami untuk ikut berjihad, namun aku tak sanggup untuk itu. Maka kupotong dua buah kuncir kesayanganku agar Anda jadikan sebagai tali kuda Anda. Kuharap bila Allah melihatnya pada kuda Anda dalam jihad, Dia mengampuni dosaku karenanya.”

Ibnul Jauzi dalam komentarnya mengatakan, “Wanita ini niatnya baik, namun caranya keliru karena ia tidak tahu bahwa perbuatannya itu – yakni memotong kucirnya – terlarang, karenanya dalam hal ini kita hanya menyoroti niatnya saja.” (Shifatus Shafwah, 1/459)

“Demi Allah, aku kagum atas semangat dan kegigihannya untuk ikut berjihad, demikian pula dengan kerinduannya untuk mendapat ampunan Allah dan Surga-Nya.” Kata Abu Qudamah.

Keesokan harinya, aku bersana sahabatku beranjak meninggalkan Raqqah.

Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada seorang penunggan kuda yang memanggil-manggil,

“Hai Abu Qudamah.. hai Abu Qudamah.. tunggulah sebentar, semoga Allah merahmatimu,” teriak orang itu.

“Kalian berangkat saja duluan, biar aku yang mencari tahu tentang orang ini,” perintahku pada para sahabatku.

Ketika aku hendak menyapanya, orang itu mendahuluiku dan mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang mengizinkanku untuk ikut bersamamu dan tidak menolak keikutsertaanku.”

“Apa yang kau inginkan?” tanyaku.

“Aku ingin ikut bersamamu memerangi orang-orang kafir,” jawabnya.

“Perlihatkan wajahmu, aku ingin lihat, kalau engkau memang cukup dewasa dan wajib berjihad, akan aku terima. Namun jika masih kecil dan tidak wajib berjihad, terpaksa kutolak.” Kataku.

Ketika ia menyingkap wajahnya, tampaklah olehku wajah yang putih bersinar bak bulan purnama. Ternyata ia masih muda belia, dan umurnya baru 17 tahun.

“Wahai anakku, apakah kamu memiliki ayah?” tanyaku.

“Ayah terbunuh di tangan kaum Salibis dan aku ingin ikut bersamamu untuk memerangi orang-orang yang membunuh ayahku,” tanyaku.

“Bagaimana dengan ibumu, masih hidupkah dia?” tanyaku lagi.

“Ya,” jawabnya.

“Kembalilah ke ibumu dan rawatlah ia baik-baik, karena surga ada di bawah telapak kakinya,” pintaku kepadanya.

“Kau tak kenal ibuku?” tanyanya.

“Tidak,” jawabku.

“Ibuku ialah pemilik titipan itu,” katanya.

“Titipan yang mana?” tanyaku.

“Dialah yang menitipkan tali kuda itu,” jawabnya.

“Tali kuda yang mana?” tanyaku keheranan.

“Subhanallah..!! Alangkah pelupanya Anda ini, tidak ingatkah Anda dengan wanita yang datang tadi malam menyerahkan seutas tali kuda dan bingkisan?”

“Ya, aku ingat,” jawabku.

“Dialah ibuku! Dia menyuruhku untuk berjihad bersamamu dan mengambil sumpah dariku supaya aku tidak kembali lagi,” katanya.

“Ibuku berkata, “Wahai anakku, jika kamu telah berhadapan dengan musuh, maka janganlah kamu melarikan diri. Persembahkanlah jiwamu untuk Allah. Mintalah kedudukan di sisi-Nya, dan mintalah agar engkau ditempatkan bersama ayah dan paman-pamanmu di Jannah. Jika Allah mengaruniaimu mati syahid, maka mintalah syafa’at bagiku.”

Kemudian ibu memelukku, lalu menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah.. ya Ilahi.. inilah putraku, buah hati dan belahan jiwaku, kupersembahkan ia untukmu, maka dekatkanlah ia dengan ayahnya.”

“Aku benar-benar takjub dengan anak ini,” kata Abu Qudamah, lalu anak itupun segera menyela,

“Karenanya, kumohon atas nama Allah, janganlah kau halangi aku untuk berjihad bersamamu. Insya Allah akulah asy-syahid putra asy-syahid. Aku telah hafal al-Quran. Aku juga jago menunggang kuda dan memanah. Maka janganlah meremehkanku karena usiaku yang masih belia,” kata anak itu memelas.

Setelah mendengar uraiannya aku tak kuasa melarangnya, maka kusertakanlah ia bersamaku.

Demi Allah, ternyata tak pernah kulihat orang yang lebih cekatan darinya. Ketika pasukan bergerak, dialah yang tercepat, ketika kami singgah untuk beristirahat, dialah yang paling sibuk mengurus kami, sedang lisannya tak pernah berhenti dari dzikrullah sama sekali.

Sampai tibanya di medan perang, Aku pun terus mengikuti dan memperhatikan gerak-geriknya, lalu tampaklah olehku bahwa ia berada dibarisan terdepan. Maka segera kukejar dia, kusibak barisan demi barisan hingga sampai kepadanya, kemudian aku berkata,

“Wahai anakku, adakah engkau memiliki pengalaman berperang..?”

“Tidak.. tidak pernah. Ini justru pertempuranku yang pertama kali melawan orang kafir,” jawab si bocah.

“Wahai anakku, sesungguhnya perkara ini tak segampang yang kau bayangkan, ini adalah peperangan. Sebuah pertumpahan darah di tengah gemerincingnya pedang, ringkikan kuda, dan hujan panah.

Wahai anakku, sebaiknya engkau ambil posisi di belakang saja. Jika kita menang kaupun ikut menang, namun jika kita kalah kau tak jadi korban pertama,” pintaku kepadanya.

Lalu dengan tatapan penuh keheranan ia berkata, “Paman, engkau berkata seperti itu kepadaku..!?”

“Ya, aku mengatakan seperti itu kepadamu,” jawabku.

“Paman.. apa engkau menginginkanku jadi penghuni neraka..?” tanyanya.

“A’udzubillah!! Sungguh, bukan begitu.. kita semua tidak berada di medan jihad seperti ini kecuali karena lari dari neraka dan memburu surga,” jawabku.

Lalu kata sibocah, “Sesungguhnya Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al-Anfal: 15-16)

“Adakah Paman menginginkan aku berpaling membelakangi mereka sehingga tempat kembaliku adalah neraka?” tanya si bocah.

Aku pun heran dengan kegigihannya dan sikapnya yang memegang teguh ayat tersebut. Kemudian aku berusaha menjelaskan, “Wahai anakku, ayat itu maksudnya bukan seperti yang kau katakan.” Namun tetap saja ia bersikeras tak mau pindah ke belakang. Aku pun menarik tangannya secara paksa, membawa ke akhir barisan. Namun ia justru menarik lengannya kembali seakan ingin melepaskan diri dari genggamanku. Lalu perang pun dimulai dan aku terhalangi oleh pasukan berkuda darinya. Sampai perang pun berakhir, akupun mulai mencarinya di tengah para korban, aku menoleh ke kanan dan ke kiri kalau-kalau ia terlihat olehku. Di saat itulah aku mendengar suara lirih di belakangku yang mengatakan, “Saudara-saudara.. tolong panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari panggilkan Abu Qudamah kemari.”

Aku menoleh ke arah suara tadi, ternyata tubuh itu ialah tubuh si bocah dan ternyata puluhan tombak telah menusuk tubuhnya. Ia babak belur terinjak pasukan berkuda. Dari mulutnya keluar darah segar. Dagingnya tercabik-cabik dan tulangnya remuk total.

Ia tergeletak seorang diri di tengah padang pasir. Maka aku segera bersimpuh di hadapannya dan berteriak sekuat tenagaku,

“Akulah Abu Qudamah..!! Aku ada di sampingmu..!!”

“Segala puji bagi Allah yang masih menghidupkanku hingga aku dapat berwasiat kepadamu.. maka dengarlah baik-baik wasiatku ini..!” kata si bocah.

Abu Qudamah mengatakan, sungguh demi Allah, tak kuasa menahan tangisku.

Aku teringat akan segala kebaikannya, sekaligus sedih akan ibunya yang tinggal di Raqqah. Tahun lalu ia dikejutkan dengan kematian suami dan saudara-saudaranya, lalu sekarang dikejutkan dengan kematian anaknya.

Aku menyingsingkan sebagian kainku lalu mengusap darah yang menutupi wajah polos itu. Ketika ia merasakan sentuhanku ia berkata, “Paman..usaplah darah dengan pakaianku, dan jangan kau usap dengan pakaianmu.”

Demi Allah, aku tak kuasa menahan tangisku dan tak tahu harus berbuat apa.

Sesaat kemudian, bocah itu berkata dengan suara lirih, “Paman..berjanjilah bahwa sepeninggalku nanti kau akan kembali ke Raqqah, dan memberi kabar gembira bagi ibuku bahwa Allah telah menerima hadiahnya, dan bahwa anaknya telah gugur di jalan Allah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Sampaikan pula padanya jikalau Allah menakdirkanku sebagai syuhada, akan kusampaikan salamnya untuk ayah dan paman-pamanku di Jannah.

Paman.. aku khawatir kalau nanti ibu tak mempercayai ucapanmu. Maka ambillah pakaianku yang berlumuran darah ini, karena bila ibu melihatnya ia akan yakin bahwa aku telah terbunuh, dan Insya Allah kami bertemu kembali di Jannah.

Paman.. setibanya engkau di rumahku, akan kau dapati seorang gadis kecil berumur sembilan tahun. Ia adalah saudariku.. tak pernah aku masuk rumah kecuali ia sambut dengan keceriaan, dan tak pernah aku pergi kecuali diiringi isak tangis dan kesedihannya. Ia sedemikian kaget ketika mendengar kematian ayah tahun lalu, dan sekarang ia akan kaget mendengar kematianku.

Ketika melihatku mengenakan pakaian safar ia berkata dengan berat hati, “Kak.. jangan kau tinggalkan kami lama-lama.. segeralah pulang..!!”

Paman.. jika engkau bertemu dengannya maka hiburlah hatinya dengan kata-kata manis. Katakan kepadanya bahwa kakakmu mengatakan,

“Allah-lah yang akan menggantikanku mengurusmu.”

Abu Qudamah melanjutkan, “Kemudian bocah itu berusaha menguatkan dirinya, namun napasnya mulai sesak dan bicaranya tak jelas. Ia berusaha kedua kalinya untuk menguatkan dirinya dan berkata,

“Paman.. demi Allah, mimpi itu benar.. mimpi itu sekarang menjadi kenyataan. Demi Allah, saat ini aku benar-benar sedang melihat al-Mardhiyyah dan mencium bau wanginya.”

Lalu bocah itu mulai sekarat, dahinya berkeringat, napasnya tersengal-sengal dan kemudian wafat di pangkuanku.”

Abu Qudamah berkata, “Maka kulepaslah pakaiannya yang berlumuran darah, lalu kuletakkan dalam sebuah kantong, kemudian kukebumikan dia. Usai mengebumikannya, keinginan terbesarku ialah segera kembali ke Raqqah dan menyampaikan pesannya kepada ibunya.

Maka aku pun kembali ke Raqqah. Aku tak tahu siapa nama ibunya dan di mana rumah mereka.

Tatkala aku menyusuri jalan-jalan di Raqqah, tampak olehku sebuah rumah. Di depan rumah itu ada gadis kecil berumur sembilan tahun yang berdiri menunggu kedatangan seseorang. Ia melihat-lihat setiap orang yang berlalu di depannya. Tiap kali melihat orang yang baru datang dari bepergian ia bertanya,

“Paman.. Anda datang dari mana?”

“Aku datang dari jihad,” kata lelaki itu.

“Kalau begitu kakakku ada bersamamu..?” tanyanya.

“Aku tak kenal, siapa kakakmu..?” kata lelaki itu sambil berlalu.

Lalu lewatlah orang kedua, dan tanyanya,

“Akhi.. Anda datang dari mana?”

“Aku datang dari jihad,” jawabnya.

“Kakakku ada bersamamu..?” tanya gadis itu.

“Aku tak kenal siapa kakakmu,” jawabnya sambil berlalu.

Lalu lewatlah orang ketiga, keempat dan demikian seterusnya. Lalu setelah putus asa menanyakan saudaranya, gadis itu menangis sambil tertunduk dan berkata,

“Mengapa mereka semua kembali tapi kakakku tak kunjung kembali?”

Melihat ia seperti itu, aku pun datang menghampirinya. Ketika ia melihat bekas-bekas safar padaku dan kantong yang kubawa, ia bertanya,

“Paman.. Anda datang dari mana?”

“Aku datang dari jihad,” jawabku.

“Kalau begitu kakakku ada bersamamu?” tanyanya.

“Dimanakah ibumu?” tanyaku.

“Ibu ada di dalam rumah,” jawabnya.

“Sampaikan kepadanya agar ia keluar menemuiku,” perintahku kepadanya.

Ketika perempuan tua itu keluar, ia menemuiku dengan wajah tertutup gaunnya. Ketika aku mendengar suaranya dan ia mendengar suaraku, ia bertanya,

“Hai Abu Qudamah, engkau datang hendak berbela sungkawa atau memberi kabar gembira?”

Maka tanyaku, “Semoga Allah merahmatimu. Jelaskan kepadaku apa yang kau maksud dengan bela sungkawa dan kabar gembira itu?”

“Jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku telah gugur di jalan Allah, dalam keadaan maju dan pantang mundur berarti engkau datang membawa kabar gembira untukku, karena Allah telah menerima hadiahku yang telah kusiapkan untuk-Nya sejak tujuh belas tahun silam.

Namun jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah, berarti engkau datang untuk berbela sungkawa kepadaku, karena Allah belum berkenan menerima hadiah yang kupersembahkan untuk-Nya,” jelas si perempuan tua.

Maka kataku, “Kalau begitu aku datang membawa kabar gembira untukmu.

Sesungguhnya anakmu telah terbunuh fisabilillah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Ia bahkan masih menyisakan sedikit kebaikan, dan Allah berkenan untuk mengambil sebagian darahnya hingga ia ridha.”

“Tidak, kurasa engkau tidak berkata jujur,” kata si ibu sembari melirik kepada kantong yang kubawa, sedang puterinya menatapku dengan seksama.

Maka kukeluarkanlah isi kantong tersebut, kutunjukkan kepadanya pakaian puteranya yang berlumuran darah.

Nampak serpihan wajah anaknya berjatuhan dari kain itu, diikuti tetesan darah yang tercampur beberapa helai rambutnya.

“Bukankah ini adalah pakaiannya.. dan ini surbannya.. lalu ini gamisnya yang kau kenakan pada anakmu sewaktu berangkat jihad..?” kataku.

“Allahu Akbar..!!” teriak si ibu kegirangan.

Adapun gadis kecil tadi, ia justru berteriak histeris lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri. Tak lama kemudian ia mulai merintih, “Aakh..! aakh..!”

Sang ibu merasa cemas, ia bergegas masuk ke dalam mengambil air untuk puterinya, sedang aku duduk di samping kepalanya, mengguyurkan air kepadanya.

Demi Allah, ia tak sedang merintih.. ia tak sedang memanggil-manggil kakaknya. Akan tetapi ia sedang sekarat!! Napasnya semakin berat..dadanya kembang kempis.. lalu perlahan rintihannya terhenti. Ya, gadisitu telah tiada.

Setelah puterinya tiada, ia mendekapnya lalu membawanya ke dalam rumah dan menutup pintu di hadapanku. Namun sayup-sayup terdengar suara dari dalam, “Ya Allah, aku telah merelakan kepergian suamiku, saudaraku, dan anakku di jalan-Mu. Ya Allah, kuharap Engkau meridhaiku dan mengumpulkan bersama mereka di jannah-Mu.”

Abu Qudamah berkata, “Maka kuketuk pintu rumahnya dengan harapan ia akan membukakan. Aku ingin memberinya sejumlah uang, atau menceritakan kepada orang-orang tentang kesabarannya hingga kisahnya menjadi teladan. Akan tetapi sungguh, ia tak membukakanku maupun menjawab seruanku.

“Sungguh demi Allah, tak pernah kualami kejadian yang lebih menakjubkan dari ini,” kata Abu Qudamah mengakhiri kisahnya.

Lihatlah bagaimana si ibu mengorbankan segala yang ia miliki demi menggapai kebahagiaan ukhrawi. Ia perintahkan anaknya untuk berjihad fisablillah demi keridhaan Ilahi. Maka bagaimanakah nasib para pemalas seperti kita. Apa yang telah kita korbankan demi keridhaan-Nya?”

(Diterjemahkan dari ceramah Syaikh DR. Muhammad al-‘Arifi yang berjudul al-Musytaquna ilal Jannah dengan sedikit penyesuaian)
READ MORE - IBUNDA YANG MENGORBANKAN ANAKNYA DI JALAN ALLOH

Postingan Populer

 

Fans Page Kami

TOKO ANIS - BALAMOA TEGAL

TOKO ANIS - BALAMOA TEGAL
TOKO SEPATU & SERVER PULSA

Tutorial Internet Marketing

Diberdayakan oleh Blogger.

IKLAN